Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta

Wednesday, 15 March 2017

Di bawah garis horizon, pantai Parai di Sungailiat, Bangka menghampar dengan pasir putih. Semilir angin laut seakan mengiringi suara khas Michael Franks, dengan Antonio’s Song. Kendatipun lagu mellow dan jazzy membelai manja telinga para tamu hotel, tetapi deburan ombak sebaliknya, bergemuruh riuh.

Rajukan lagu Michael Franks dan deburan ombak mengena dengan kemilau zamrud Khatulistiwa. Parai ditempuh hanya sekitar 45 menit dari bandara Depati Amir ibukota Bangka Belitung, Pangkalpinang.

Parai resort bukan lagi hanya sekedar tempat untuk leyeh-leyeh, dengan semilir angin laut dan gemericik dedaunan pohon kelapa. Parai terus menggeliat dengan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). “Kami juga mengelola one stop entertainment dengan karaoke, diskotik. Ada tamu-tamu asing, seperti bulan lalu, investor sawit asal Spanyol. Lokasi perkebunannya di Kota (Bangka Selatan; 58 Km, 1 jam dari Pangkalpinang),” kata Merlin dari Parai resort

                                                           Hamparan Laut Parai

Pengelolaan bisnis entertainment, resto dan hotel di lokasi terpencil seperti di Parai bukan perkara mudah. Selain mengandalkan view yang terbaik seperti pantai, promosi juga ibaratnya dengan wow marketing. “Kami promosi melalui sosmed, suasana seperti keluarga (antar karyawan). Beberapa bulan lalu, suasana (entertainment di Parai) sempat sepi. Saya langsung datangi DJ (disc jockey) Ayu. Selain (penampilan) seperti tato, dia juga sudah keliling seluruh Indonesia (main DJ) seperti Manokwari (Papua), NTT (Nusa Tenggara Timur), Ambon.”

 

                                                                               DJ Ayu

Kendatipun demikian, entertainment di lokasi terpencil, jauh dari keramaian tidak harus dibarengi dengan prostitusi. Terbukti, Parai Sungailiat tetap dianggap daerah tujuan wisata keluarga. Kalaupun ada turis asing, hiburan hanya sebatas karaoke, live music. “Akhirnya mereka (investor sawit asal Spanyol) buka kamar tiga hari disini (Parai). Mereka sebatas cari hiburan, tidak cari ‘plus-plus’. Management juga melarang kegiatan yang mengarah kesana.”

Industry MICE parallel dengan pemanduan wisata. Khususnya di Bangka, beberapa freelance tour guide (jasa pemandu wisata sambilan) semakin tumbuh. Para wisatawan mancanegara (wisman), nusantara (wisnus) sudah pasti mencari keunikan pada daerah tujuan wisata. Tour guide juga harus bisa mengelaborasi keunikan feature-feature wisata. Misalkan kondisi di Bangka yang tidak ada gunung merapi. Tetapi ada sumber air panas yang bau belerang.

Selama ini air panas belerang berasal dari pegunungan seperti Ciater (Jawa Barat), Banyuwedang Bali dan lain sebagainya. Pengunjung memanfaatkan air panas belerangnya. “Tapi air panas dengan belerang di Belinyu (8 Km, dua jam dari Pangkalpinang) agak special, beda dengan yang di Ciater. Banyak (pengunjung) sembuh dari penyakit, setelah berendam di air panas.


                                                                Batu-batu besar di pantai Parai

Di sini juga tidak ada gunung merapi. Selain ada juga potensi wisata religi seperti Goa Maria (untuk umat Katolik), Puri Tri Agung (agama Buddha), masyarakat yang bikin kerupuk khas Bangka di Belinyu, dan lain sebagainya. Sehingga kehandalan tour guide yang menentukan maju tidaknya industry MICE di lokasi terpencil.”




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 448 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 657 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1374 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 884 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 975 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 760 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1147 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1750 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1086 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2450 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1338 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1093 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 840 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1022 kali | 0 Komentar
``


KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1750 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2338 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 657 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 448 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana