Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA

Wednesday, 17 August 2016

Hi KoKi? Apa kabar? Kemana Dadi pergi? Sibuk ini-itu, ya. Pak Sirpa menanyakan artikelnya. Ah, tega nian Engkau membiarkan Pak Sirpa berteriak-teriak di Kolom Greetings.  Mbak Meong pun juga menanyakan artikelnya mapet dimana tuh.


Tidakkah Engkau rindu untuk menegur sapa para pengikutmu yang selalu setia menunggumu?

Engkau telah membisu seribu kata.

Rindu. Ya, mungkin you tube Mus Mulyadi ini bisa mempresentasikan perasaan rindu bagi siapapun yang bingung dan rindu.  Rindu apa saja. Walaupun dalam hal ini  KoKiers rindu pada KoKi tetapi tak ada salahnya kalau mendengarkan lagu  ini. 

Selamat mendengarkan dan berkaraoke:


Akupun demikian, rindu sudah nasib namun bukan untung di badan melainkan aku kena Sciatica sepulangnya dari Indonesia.

Bulak -balik ke dokter, sudah menjalankan fisioterapi dan dokter tulang (orthopedist). Karena sakitnya tidak hilang juga maka Orthopedist mengirim aku ke spesialis bagian sakit (pain doctor).

Aku harus menunggu 2 bulan agar bisa mengunjungi spesialis ini. Menunggu begitu lama karena giliranku pada bulan Juli beberapa hari yang lalu. Saking lamanya, aku tak sabaran akan sakitku sehingga membuatku stress.

Sampai akhirnya aku kena Lumbar Stenosis dari hasil MRI, Magnetic Resonance Imaging pada bulam Mei yang lalu. Lumbar Stenosis di punggung bawah ini berhubungan dengan Sciatica-ku.

Akupun menangis bombay di depan dokter Arab yang menjawab sakit mendadakku karena dokterku yang selalu merwat kesehatanku sibuk dengan pasiennya.

Aku mengerang kesakitan karena  disk di punggungku berkapur. Aku tidak bisa jalan, berdiri, bangun, merebahkan badan ke kiri maupun ke kanan karena terlalu sakit. Rasa sakitnya ketika itu seperti pinggangku putus dua.

Sciatica dan lumbar stenosis ini adalah penyakit yang menyerang manula. Walaupun aku manula, aku tidak malu mengerang kesakitan dihadapan suamiku dan Dokter Arab nan ganteng ini. Aku memerlukan pertolongan daruratnya.

Dua lelaki di kamar pasien bingung melihat perempuan yang menangis bombay. Ach, apakah engkau mahluk yang begitu lemah dan tak bisa melihat perempuan menangis?

Setelah saya menunjukkan bagian punggung bawahku yang sakit maka si dokter ini keluar. Kemudian datang suster pembantu membawa 2 suntikan: Toradol dan Norflex.

Dalam seminggu, aku berangsur-angsur baik, dalam arti saya sudah bisa bangun sendiri dari tempat tidur. Namun sakitnya, masih ada. kaena terlalu sakit akibatnya menyita pikiran saya karena saya sibuk memikirkan rasa sakit. Akhirnya seperti orang diserang depresi.

Setelah disuntik maka ada follow-up visit, mengunjungi dokter umum yang selalu menangani kesehatan saya.  Dokter aku menjelaskan bahwa Sciatica yang saya alami sebelumnya karena disk di punggungku itu yang menyebabkan rasa sakit.

Untuk meghindarkan rasa sakit itulah maka spesialis bagian Pain Management  akan menyuntikkan Ibuprofen di saraf punggung bawah saya pada Agustus mendatang.

Jadi, sekarang saya dibawah penanganan spesialis bagian Pain. Penyuntikkan ini bisa berhasil, bisa pula tidak sebab kena sciatica sudah lama sejak Oktober, sekembalinya dari Indonesia tahun lalu.

Dokter yang merawat kesehatanku berliku-liku mengambil keputusannya, karena disuruh fisioterapilah, ke dokter tulanglah. Alasannya, iji asuransi agar dapat membayar semuanya.

Eh, pas suamiku mengunjungi dokternya yaitu dokter Arab ini maka dokter Arab yang ganteng ini menanyakan keadaan saya, apakah sudah sembuh sakit di punggung atau belum. Suamiku tak menyangka pertanyaan itu karena saya bukan pasiennya.

Suamiku berkata ke aku: "Begitu besar perhatian  dokter Arab ini terhadap pasiennya".

Aku jawab: "Iya, aku senang dengan Dokter Arab ini, mana gantengdan muda lagi. Tidak saja ganteng dan muda tapi juga pintar karena ia cepat mengambil tindakan terhadap penyakitku jika dibandingkan dengan dokterku yang perempuan".

Ya, aku katakan dokter Arab ini pintar karena ia cepat mengambil tindakan. Padahal baik dokter Arab yang juga menjadi dokter tetap suamiku maupun dokter tetap aku sama-sama mempunyai keahlian di bidang internal medicine. dan khusus untuk pasien manula.

Sciatica adalah sakit  di salah satu kaki entah kaki kanan atau kaki kiri dan sumbernya di pinggang bawah. Untuk aku, sakitnya di urat bagian belakang lutut sampai ke setengah paha kaki kiriku.

Rasa sakitnya seperti urat ditarik-tarik. Ada kalanya sangat sakit. Kadang-kadang, ujung jari kaki seperti kesemutan. Kalau duduk terlalu lama di kendaraan maka pahaku sakit sekali. Tentunya harus minum obat resep anti sakit.

Untuk jelasnya, saya copy-paste gambar ini  agar saudara semua mendapatkan gambaran tentang penyakit ini.    

https://medlineplus.gov/ency/imagepages/19503.htm

 

Ketika aku ke dokterku maka aku tanyakan : "Apakah aku bisa baik dengan dipijat atau diurut"?

Sang dokter mengatakan: "Tidak".

Dokter lamaku pernah menganjurkan agar aku ke tukang pijat. Tetapi waktu itu, aku tidak sanggup membayar tukang pijat karena duitku cekak. Maklum, aku sibuk membesarkan dan mendidik  2 orang anakku agar berguna bagi bangsa dan negaranya.

Memerlukan uang banyak untuk membesarkan dan membiayai mereka kuliah.

Kini, mereka sudah besar, dewasa dan bertanggung jawab. Akupun mulai lega dengan ekonomi rumah tangga.

Pada suatu malam, aku teringat nasehat dokter lamaku agar ke tukang pijat. Karena saya suka tukang pijat (massage therapist) maka aku mencari alamatnya di Google tetapi nomor teleponnya sibuk terus. Alhasil, gagal setelah mencoba 2 kali telpon.

Akhirnya, aku mendapatkan alamat tukang pijat perempuan di kotaku dengan bantuan Google.

Aku membaca web site nya dan ada paket untuk senior citizen, umur 60+ dengan memperlihatkan ID. 

Dari web site-nya ada beberapa macam jenis pijat: Aromatherapy, Medical/Clinical Massage, Swedish Massage,  Therapeutic Polarity dan Reflexology.

Akupun segera menelpon dan meninggalkan pesan di telpon. Tukang pijatpun menelpon aku serat menentukan hari  dan jam untukku.

Sayapun mengisi formulir tentang evaluasi kesehatan saya  dan menandatanganinya. Pertanyaannya sebanyak 2 lembar; mirip seperti pertanyaan kalau pasien  Amerika Serikat pergi ke dokter umum (primary care physician) atau spesialis.

Dari rumah, saya sengaja memakai  celana musim panas yang pendek nan longgar agar tetap  menutupi pahaku sewaktu ia memijat.

Pas tiba waktuku untuk dipijat maka ia menyuruh aku ke kamar yang sudah disediakan. Aku disuruh melepaskan baju namun celana dalam tetap dipakai dan berbaring di meja pijat yang ditunjuk. 

Setelah  badan terlentang maka aku mengistirahatkan  bagian ujun kakiku  di bantal guling yang disediakan. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya tetap memakai BH.

Massage therapist  ini menjawab: "Terserah kamu  jika kamu  merasa nyaman dengan celana pendekmu dan memakai BH".

Tukang pijat ini menanyakan jenis pijat apa yang aku inginkan. Berhubung ini yang pertama kalinya maka saya mengatakan: "Terserah saja". Pijat berlangsung selama 1 jam.

Ia memulai pijatannya dan apa yang dilakukannya mirip dengan di Indonesia. Ia memberikan medical massage karena bahu, punggung dan tengkukku keras , eh. Ia  meminta ijin untuk melepaskan kancing BH agar ia bisa mengurut. Setelah selesai di bagian punggung ia memasangkan lagi BH-ku.

Selagi ia memijatku dengan lotion, aku teringat akan tukang pijat di Indonesia karena biayanya yang sangat murah. Saya selalu menggunakan kesempatan pijat di Indonesia walaupun hanya sekali karena biaya yang jauh lebih  murah jika dibandingkan dengan harga pijat di Amerika Serikat ini.

Mula-mula, aku membayar untuk 1 kali pijat. Selama dipijat, saya merasakan pijatannya enak. maka saya langsung memesan 4 paket. Setiap paket, 1 jam lama pijatnya.

Ketika membayar, ia salah hitung setelah saya memberitahukan bahwa seharusnya saya harus membayar sekian dollar. Jadi, ia mengenakan harga $20.00 (baca: dua puluh dollar) lebih mahal dari semestinya.

Karena kesalahannya menghitung transaksi maka ia memberikan saya pijat yang ke lima itu seharga $20.00. Begitulah busines di Amerika yang selalu menjaga hubungan dengan pelanggannya agar tidak menggerutu. Customer is the King.

Saya senang dengan cara yang dilakukan si massage therapist ini. Ia mencari titik-titik penting yang sakit (muscle knots) lalu ia bertahan disitu untuk beberapa menit.

Kalau di Indonesia, badanku yang dipijat pernah berakhir biru menjurus ke ungu di pahaku seperti orang kena gebuk. Saya tidak tahu mengapa bisa sampai begitu. Aku juga disuruh melepaskan BH , malu banget rasanya. Aku tutup dadaku dengan kain batik panjang untuk menggendong anak.

Dan si mbok berkata menghibur: "Kagak usah malu sama mbok, Neng. Mbok ngerti. Kita, sama-sama perempuan".

Asuransi kesehatanku tidak akan mengganti biaya pijatyang mahal ini karena tidak tertera dalam daftar servis kesehatan yang ditanggung asuransi.

Jika therapeutic massage ini membuat perubahan bagi kaki kiriku setelah beberapa kali datang walaupun mahal maka akan tetap saya jalankan setiap 2-3 minggu sekali.

Kadang-kadang, terselip faktor bosan ke dokter terus ; entah periksa ini-itu.  Setiap kali, saya mengeluh, diberi obat. Di Amerika, dokter memonitor kesehatan pasiennya apalagi kalau sudah manula.

Jadi, saya mencoba pijat di Amerika Serikat ini. Uang tidak dibawa mati.

Go Massage!




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 572 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 822 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1789 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1021 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1080 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 856 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1285 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1881 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1213 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2618 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1466 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1185 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 933 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1135 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1080 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1881 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2439 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 822 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 572 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana