Pengungsi

Sheila Shan - Jerman

Monday, 28 March 2016


Sering kita dengar berita kontroversial seputar drama pengunsi terutama dari Suriah ke sejumlah negara Eropa. Banyak orang-orang baik di milis online ataupun comment section di berbagai website yang menghubung-hubungkan naiknya angka refugees atau pencari suaka itu dengan berbagai macam serangan teror di Eropa akhir-akhir ini.

Tapi sebenarnya, kenapa sih angka pencari suaka dari Syria naik akhir-akhir ini?

Sejak 1960an, negara Suriah dipimpin penguasa diktator keluarga Al-Assad. Revolusi yang terjadi seperti yang melanda Tunisia, Mesir dan Libya untuk menjatuhkan regime dikator, menginspirasi orang-orang di Suriah untuk melakukan hal yang sama. Namun, keluarga Al-Assad menolak untuk turun tahta, dan ini menyebabkan perang sipil yang besar di Syria.

Banyak grup-grup religius di Suriah membantu satu sama lain dengan berkoalisi. Kekacauan ini digunakan ISIS sebagai batu pijakan untuk membangun kalifat Islam ektrimis. ISIS pun menjadi salah satu grup ekstrimis yang paling keji dan paling sukses di dunia.

Eksekusi massa, pengunaan senjata-senjata kimia, penyiksaan dan serangan berbahaya bahkan pada warga sipil dilakukan oleh semua pihak yang bertikai: baik dari keluarga Al-Assad, ISIS, dan partai-partai oposisi lain.

Warga Suriah terjepit di tengah konflik perang ini. Kira-kira sepertiga dari warga Suriah telah direlokasikan di negaranya sendiri untuk menghindari zona perang, tapi dengan ketidakstabilan negaranya lebih dari 4 juta penduduk Suriah memilih mengungsi ke negara lain.

Sembilan puluh lima persen dari para pencari suaka ini tinggal di camp untuk mencari suaka di negara-negara tetangga, seperti Turki, Lebanon, Irak, Mesir dan Jordan.

Yang memalukan, negara-negara Arab yang ''kaya raya“, seperti Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Oman dan Qatar justru sama sekali tidak menerima pencari suaka dari Suriah itu.

UN tentunya tidak siap dengan krisis gelombang refugees yang sebesar itu. Hal ini  menyebabkan buruknya kondisi di camp-camp pengungsi di berbagai tempat. Inilah alasan kenapa banyak pencari suaka yang memilih untuk meriskankan nyawanya sendiri dan keluarganya untuk mencari suaka di Uni-Eropa.

Sementara Uni-Eropa juga tidak siap dengan ''serbuan“ para pencari suaka dari Suriah, karena sejak 2007 sampai 2014, dana mereka lebih banyak dialokasikan untuk biaya pertahanan dan penjagaan perbatasan. Belum lagi ditambah krisis ekonomi yang melanda eropa belum sepenuhnya pulih.



Menurut Dublin Regulation atau regulasi Dublin, para pencari suaka harus menetap di negara dimana kali pertama kaki dipijak. Ini jelas sangat menyulitkan negara-negara yang bebatasan dengan laut mediterania, terutama Yunani; yang tengah dihimpit krisis ekonomi besar-besaran.

hal itu mengakibatkan banyak orang kelaparan dan kesusahan di tempat-tempat yang biasanya didatangi para turis.

Untuk mengurangi jumlah pencari suaka yang datang ke Eropa, pada tahun 2014, pemerintah Inggris meniadakan program Mare Nostrum; yang bertujuan untuk menyelamatkan pencari suaka yang terlantar di laut.

Mereka berharap dengan tingginya jumlah kematian di laut mediterania membuat para pencari suaka berpikir seribu kali untuk memilih Eropa sebagai tujuan. Tapi realitanya ancaman maut di laut mediterania  tidak mencegah niat pencari suaka untuk terus mendatangi tanah damai dan penuh harapan di Eropa. Angka pencari suaka justru kian hari makin bertambah.

Foto kontroversial yang amat tragis, menggambarkan seorang anak kecil yang sudah meninggal terlantar dengan wajah mencium pasir di pantai di Turki, mengubah pandangan dunia soal krisis pencari suaka.


Jerman sempat menyatakan, bahwa mereka siap menerima 800.000 pencari suaka dari Suriah pada tahun 2015. Namun beberapa hari kemudian mereka melakukan patroli perbatasan dan meminta solusi bersama dari Uni-Eropa.

Bantuan untuk para pencari suaka datang sebagian besar malah dari masyarat Eropa, bukan dari politisi.

Kenapa Meningkatnya Arus Pencari Suaka "Menakutkan“ Bagi Sebagian Orang Barat?

Bukan berita lagi kalau masyarakat Eropa kuatir akan kaum muslim, yang selama ini sering dihubungkan dengan aksi teror yang keji. Mereka juga kuatir dengan angka kelahiran yang tinggi dari para pendatang dan juga ketakutan akan makin naiknya angka tindakan kriminal.

Tapi pertanyaannya, apakah ketakutan-ketakutan mereka itu terjustifikasi?

Anggap saja Uni-Eropa mau menerima semua pencari suaka dari Suriah (yang berjumlah lebih dari 4 juta jiwa ), dan taruhlah kalau semua pencari suaka itu muslim. Persentase jumlah orang muslim di Eropa cuma bertambah 1% saja (dari 4% jadi 5%). Minoritas Islam bukanlah hal baru di Eropa dan selama ini tidak menimbulkan masalah yang siknifikan.

Banyak yang takut juga dengan tingginya angka kelahiran yang tinggi diantara kalangan muslim di Eropa, yang disertai dengan rendahnya angka kelahiran orang aslinya. Beberapa berpendapat bahwa, dengan cara ini pelan-pelan penduduk asli Eropa akan digantikan oleh keturunan pecari suaka.

Tapi kenyataanya, angka kelahiran di Suriah sendiri sudah banyak menurun dalam dekade ini, dan penduduk muslim di Eropa yang sudah lebih terintegrasi di masyarakat dan lebih berpendidikan juga mengalami penurunan angka kelahirannya.

Ketakutan bahwa pencari suaka bisa menyebabkan meningkatnya kriminalitas juga tidak bisa dijustifikasi. Bila diberi kesempatan untuk bekerja dan berbisnis, kemungkinan mereka berbuat kriminal jauh lebih rendah dari penduduk asli. Salah satu contohnya adalah pelaku bom Paris, yang notabene adalah warga kelahiran Prancis sendiri.

Para pencari suaka yang telah terintegrasi tidak menutup kemungkinan untuk bisa berkontribusi lebih banyak ke negara daripada yang mereka terima, dengan cara memulai usaha dan bekerja di negara setempat.

Terdapat juga miskonsepsi bahwa pencari suaka yang menggunakan telefon pintar, tidak butuh bantuan karena mereka punya cukup uang dan resources.Tapi jujurlah, bayangkan kalau Anda di posisi mereka: Gedung-gedung 3 blok dari rumah Anda sudah dibom dan Anda mendengar suara tembakan. Anda dan keluarga Anda memutuskan untuk kabur dari zona perang. Apakah Anda akan meninggalkan smart phone Anda di rumah?

Jadi menurut saya, masyarakat di Eropa harusnya diinformasikan bahwa pencari suaka dari Suriah itu tidak sebahaya yang mereka pikir. Mereka bukan ISIS, mereka justru kabur dari perang yang disebabkan oleh ISIS, pemerintah otoriter dan partai perlawanan.

Sumber:
http://www.reuters.com/article/us-europe-migrants-turkey-idUSKCN0R20IJ20150902
http://www.dailymail.co.uk/news/article-3222405/How-six-wealthiest-Gulf-Nations-refused-single-Syrian-refugee.html
Gambar titel:
http://www.dailymail.co.uk/news/article-3222405/How-six-wealthiest-Gulf-Nations-refused-single-Syrian-refugee.html




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 571 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 821 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1788 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1020 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1079 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 856 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1284 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1880 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1212 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2618 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1466 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1185 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 933 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1135 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1079 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1880 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2439 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 821 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 571 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana