Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

Gan Pradana - Jakarta

Friday, 11 March 2016


Bapak Basuki Tjahaja Purnama yang saya hormati dan kasihi.

Pertama-tama saya mohon maaf sebab telah lancang menulis surat terbuka kepada Bapak yang konsekuensinya siapa pun bisa membaca padahal isinya mungkin sangat pribadi.

Tapi, saya percaya Bapak tidak akan marah sebab Bapak adalah sosok pemimpin yang berjiwa besar dan bisa menerima apa pun yang dikeluhkan warga, termasuk kritik yang keras sekalipun.

Maaf, Pak, saya bukan warga Jakarta, sehingga tidak bisa memilih Bapak atau Haji Lulung (jika ia ikutan "nyalon") pada Pilkada Serentak 2017 nanti. Namun, saya kok yakin, apa yang saya sampaikan di dalam surat terbuka ini sama dengan apa yang dipendam warga DKI yang mencintai dan mengasihi Bapak.

Saya sengaja menggunakan istilah "mencintai dan mengasihi", karena faktanya memang demikian. Warga kota Jakarta yang Bapak pimpin apa pun latar belakang pendidikan, sosial dan agamanya sangat menyayangi Bapak. Saya, kok, yakin sebagian besar dari mereka akan memilih kembali Bapak sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Mengapa mereka memilih Bapak, sebab warga Jakarta yang tidak lain adalah saudara-saudara Bapak yang kebetulan Muslim menilai Bapak sebagai pemimpin yang amanah, shidq, fathonah, dan tabligh.

Bagi warga DKI yang kebetulan seiman dengan Bapak mungkin mereka menyimpulkan Bapak sebagai sosok pemimpin yang dipakai Tuhan untuk menyejahterakan dan menyelamatkan warganya. Ya, ini tak ubahnya Musa yang membebaskan para pengikutnya dari perbudakan di tanah Mesir.

Berkat ketegasan dan keberanian Bapak, warga Kalijodo telah Bapak selamatkan dari kehidupan kelam yang waktu itu kami – juga warga di sana – tidak tahu, sampai kapan akan berakhir. Namun, berkat kenekatan Bapak yang sudah pasti pakai perhitungan, kawasan kelam di Kalijodo, akhirnya Bapak bongkar.

Doa sebagian besar para penjaja “cinta” yang rindu kembali ke jalan yang benar pun akhirnya terkabul. Tuhan menjawab doa yang berisi kerinduan orang terpinggirkan melaui Bapak. Sebagian dari mereka pulang ke kampung halaman, berkumpul kembali bersama keluarga. Semoga mereka bahagia di kampung asalnya, meskipun harus kehilangan “kenikmatan” berupa uang yang selama ini mereka peroleh saat masih “beroperasi” di Kalijodo.

Cara Tuhan menjawab doa setiap umat-Nya memang unik dan kerap tidak masuk akal dan sulit diselami oleh nalar manusia Siapa sangka Tuhan memakai Bapak untuk menjawab doa-doa mereka. Berkat keberanian Bapak, Tuhan akhirnya juga memberikan berkat berupa rumah susun kepada sebagian warga Kalijodo. Mereka kini tidak lagi bermukim di permukiman kumuh dan lingkungan yang tidak sehat.

Warga Jakarta – juga masyarakat Indonesia – dan tentunya Bapak dan staf serta aparat kepolisian dan TNI pantas bersyukur kepada-Nya, sebab pembongkaran bangunan di Kalijodo yang berlangsung pada Senin (29 Februari) berjalan lancar. Padahal banyak di antara kami yang mengkhawatirkan pembongkaran yang Bapak lakukan akan mendapat perlawanan sengit dari sebagian warga di sana.

Alhamdulillah! Puji Tuhan, kekhawatiran kami tidak terjadi. Demikian pula, ancaman bahwa 1.000 perempuan penghibur lelaki nakal di Kalijodo akan melakukan aksi unjuk rasa yang tidak senonoh tidak terwujud.

Setelah penggusuran berjalan aman, ke depan, sebagaimana Bapak janjikan kepada warga Jakarta, Kalijodo akan Bapak ubah menjadi taman hijau. Kami mengharapkan Bapak segera merealisasikan janji tersebut.

Melalui surat terbuka ini, izinkan kami meminta kepada Bapak, agar Bapak membangun kembali rumah ibadah (masjid dan gereja) yang juga Bapak bongkar, tentunya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sebelum dibongkar, di kawasan itu ada Gereja Bethel Indonesia. Sudilah kiranya Bapak menghadirkan kembali rumah Tuhan tersebut, begitu juga bangunan masjidnya.

Kami rindu, masjid dan gereja dibangun berdampingan dan umat-Nya bisa leluasa beribadah dan hidup saling mengasihi dalam damai dan sejahtera. Dengan begitu dari Kalijodo terpancar kebhinekaan Indonesia yang sungguh amat mulia itu.

Bapak Ahok yang dikasihi Tuhan.

Sebagaimana banyak diberitakan media, Bapak akan kembali mencalonkan diri menjadi gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Sayang, Wali Kota Bandung Bapak Ridwan Kamil tidak bersedia dicalonkan menuju DKI-1 dengan berbagai alasan. Padahal Bapak Ridwan bisa menjadi penyeimbang demokrasi dalam Pilkada Serentak di Jakarta pada Februari 2017.

Tapi, baiklah, itu menjadi hak beliau untuk menerima atau menolak. Faktanya, Bandung, seperti yang disuarakan warga kota Priangan itu, memang masih membutuhkan beliau, seperti halnya Jakarta memerlukan kehadiran Bapak.

Itu berarti posisi Bapak dalam proses pemilihan gubernur DKI Jakarta semakin kuat. Maaf, kalau saya terkesan menggurui, kenyataan itu jangan menjadikan Bapak sombong dan besar kepala.

Bapak sekarang berada di puncak. Bahkan ada yang mengatakan, 2016 adalah tahunnya Ahok. Bapak jangan terbuai dengan berbagai sanjungan. Sebaliknya, dengarkanlah kritik dan masukan dari siapa pun, termasuk dari lawan-lawan politik Bapak.



hello-pet.com

Posisi Bapak yang demikian tinggi, ibarat pohon, Bapak akan sering tertiup angin kencang. Jika Bapak tidak kuat, maka sangat mungkin Bapak akan tumbang. Jangan lawan angin kencang itu dengan kesombongan, sebab Tuhan sering menjatuhkan umat-Nya karena ia sombong.

Kemarin saya menonton talk show di televisi (salah seorang pembicaranya politikus dari PDIP) yang mengungkapkan bahwa Bapak bisa saja akhirnya benar-benar tidak disukai warga Jakarta lantaran Bapak salah ucap/keseleo lidah (slip of the tounge) ketika lawan politik Bapak menyerang Bapak dengan isu-isu SARA. Nara sumber ini tentu mengkhawatirkan hal itu akan terjadi setelah melihat ucapan-ucapan Bapak yang selama ini dikesankan kasar dan tak beretika.

Ada baiknya Bapak simak. Mulailah berbicara lembut, jangan saat mendekati pilkada, tapi selamanya. Saya percaya Bapak bisa.

Seorang teman juga mengingatkan bahwa hari-hari ini hingga pilkada nanti, banyak lawan politik Bapak yang kerap dan sengaja melemparkan kulit pisang di dekat Bapak. Harapan mereka, Bapak menginjaknya dan akhirnya Bapak terpeleset dan jatuh. Repotnya, kulit pisang itu bermuatan SARA.

Melalui surat terbuka ini, saya berharap, Bapak hati-hati. Kendalikanlah emosi Bapak. Jika terpaksa harus menanggapi, tanggapilah dengan santun dan senyum, jangan dengan muka yang tegang.

Ada baiknya Bapak ingat bahwa mendekati hari-hari penting yang akan Bapak jalani, cobaan dan godaan untuk menjatuhkan Bapak akan sering Bapak alami. Iblis kerap menggoda.

Tak ada salahnya Bapak mengikuti atau meneladani cara Yesus saat digoda iblis agar Ia mengubah batu menjadi roti, atau menerjunkan diri dari puncak bukit ke bawah agar bisa menguasai sebuah kota (kerajaan).

Saya percaya Bapak sangat paham dengan kisah di atas bahwa saat iblis menggoda-Nya, Yesus sama sekali tidak terpancing. Ia hanya memberikan jawaban yang sangat diplomatis.

Saya membayangkan saat menanggapi godaan iblis itu, Yesus berkata sambil tersenyum. Ya, Dia santai sekali. Saya percaya Bapak punya bakat seperti ini, sehingga tidak harus berteriak lantang seperti orang-orang pada zaman itu “salibkan Dia!” yang penuh dengan dendam kesumat.

Demikian surat terbuka dan ungkapan dari saya (mungkin juga banyak orang). Selamat bertugas dan melayani sebagai gubernur DKI Jakarta. Salam untuk Ibu Veronica dan anak-anak. Tuhan memberkati.[] Jakarta, 1 Maret 2016 Gan Pradana




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1767 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1015 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 853 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1280 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1209 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2612 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1463 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1179 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 927 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1128 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2436 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana