Kopi Itu Berbicara Lho...

Setiawan Liu - Jakarta

Wednesday, 02 March 2016

Empat puluh tahun yang lalu, seorang barista di Taiwan termangu melihat transaksi di coffee shop (kedai kopi), yakni secangkir kopi seharga 25 Dolar Taiwan Baru (TWD). Selain itu, roti isi diperjual-belikan dengan harga 25 TWD.


                                                                       Stephen Lo

Barista muda tersebut baru saja menyelesaikan program pelatihan kopi dari seorang grand master. Biaya pelatihannya sekitar 500 TWD untuk beberapa jam, setara dengan 20 kali lipat harga roti isinya.

Ia memulai karirnya di kedai kopi ternama di kota Taipeh. Setiap hari ia membuat, menyajikan kopi yang berbasis espresso kepada para pengunjung berdasi. Mereka juga naik turun mobil mewah. Setiap kali itu pula, ia berhitung-hitungan antara biaya pelatihannya dengan harga secangkir kopi. Selisihnya sangat besar, dan tidak sebanding dengan daya upayanya mendulang pengetahuan dan skill dari seorang grand master.

Setelah bertahun-tahun ia mencari tahu, ternyata sajian kopinya masih ada yang kurang. Kedai kopi di Taipeh tidak lagi sekedar barista menyajikan kopi espresso, tetapi harus dengan value addition (nilai tambah).


Suasana kedai kopi dibuat sedemikian rupa, sehingga ada nuansa keunikan dan sekolah-an. Dia mulai, tidak hanya menyajikan kopi tetapi menyodorkan culture (kebudayaan). Barista juga bisa berbagi pengalaman bagaimana roasting kopi yang benar, memilih bean (biji kopi) yang bagus. Kopi sebagai komoditi dikemas dengan nuansa culture dan edukasi.

Sejak itu, suasana kedai kopi di Taipeh memunculkan banyak penggila kopi atau coffee enthusiast, coffee maniac dan lain sebagainya. Salah satunya, Stephen Lo. Ia menghabiskan uang sekitar 30 ribu US Dolar (sekitar Rp 400 juta) untuk mendalami ilmu perkopian di Amerika. “Sekali mau belajar, biayanya memang mahal. Untuk uang sekolahnya saja sekitar 20 ribu US Dolar, 10 ribu untuk akomodasi, tiket pesawat, makan sehari-hari dan lain sebagainya,” Stephen mengatakan kepada Redaksi.

Mungkin di Indonesia, hanya segelintir orang yang mau menghabiskan biaya ratusan juta untuk belajar mengenai kopi. Pelajaran bukan hanya sebatas strategi bisnis kopi, tetapi juga tata cara saji kopi. Untuk menyeduh bubuk kopi sampai menyajikan dengan air panas ternyata juga butuh metode-metode yang tepat. Hal ini, bagi sebagian orang mungkin dianggap berlebihan. Tetapi rasa kopi bisa keluar, karakternya terasa kalau penyajiannya dengan sempurna. “Seperti di Taiwan, masyarakatnya sangat menghargai karakter, cita rasa kopi yang fine atau special.”

Roasting (memasak) kopi juga sangat menentukan karakter kopi. Peserta pelatihan di Amerika mengenai kopi dengan beragam motivasi dan kepentingannya. Beberapa peserta tertarik untuk menjadi barista di kedai-kedai kopi. Tetapi banyak juga yang tertarik belajar mengenai penyajian kopi termasuk cara seduh dan roasting.

 “Ada peserta (pelatihan) yang mau belajar cara penyajian, bukan untuk di kedai kopi atau café. Mereka melihat suasana acara keluarga, atau pertemanan, pertemuan bisnis bisa dibarengi dengan sajian sempurna kopi. Sehingga antara teman, saudara di rumah, rekan bisnis bisa semakin erat setelah menikmati kopi dengan tata cara penyeduhan.”

Ada beberapa metode menyeduh kopi di antaranya adalah pour over, French press, dan Aeropress. Masing-masing metode akan menghasilkan rasa yang berbeda, meskipun mungkin akan sulit dideteksi dengan lidah biasa.

Mempelajari cara membuat minuman kopi memang agak sulit dan membutuhkan ketelitian terutama kualitas biji air dan suhu air panas yang tepat. Namun untuk dapat menikmati secangkir kopi bercitarasa kelas atas, ada baiknya Beberapa kesalahan pada penyeduhan kopi antara lain penyeduhan dengan air rebusan ulang, penyimpanan kopi terlalu lama, takaran yang kurang tepat. “Kalau untuk teori makro (perkopian), Amerika memang lebih hebat.

Tetapi untuk tata cara penyeduhan atau hal-hal detail (sajian kopi), pasti orang Jepang, orangTaiwan. Negara-negara tersebut, walaupun bukan negara penghasil kopi, tapi sangat membudaya (minum kopi). Bahkan untuk mendapat berbagai buku mengenai perkopian, Taiwan adalah gudangnya. Sebagian buku adalah terjemahan dari Bahasa Jepang ke bahasa Mandarin.”



Asosiasi profesi perkopian di Taiwan juga didukung oleh kementerian terkait di Taiwan. Selama ini, hanya ada satu asosiasi yang membawahi urusan mengenai industry kopi. Sebagian besar masyarakat pecinta kopi di Taiwan cenderung memilih kopi special. Kopi dalam bentuk kemasan bukan dalam bentuk sachet, melainkan botol.

Selain itu, kopi kemasan juga bercita rasa special, bukan three in one (kopi, gula, creamer) seperti yang banyak ditemukan di Indonesia. “Mereka (masyarakat di Taiwan) juga suka yang praktis, tetapi kemasan botol. Mereka bisa langsung minum. Karena kehidupan di sana jauh lebih sibuk dibanding di Indonesia. Kemasan botolan juga hanya bisa disimpan selama 24 jam. Kalau lebih dari itu, kopinya sudah tidak bisa diminum. Tetapi kalau di Indonesia, mungkin ada (kopi kemasan) yang disimpan selama beberapa bulan.”

Stephen mengaku baru setahun menggeluti bisnis kopi. Selain kopi jenis special, ia juga mengolah kopi luwak, birdnest (sarang burung), beras organic. Ia menyimpan lebih dari seratus buku mengenai kopi, dalam bahasa Inggris dan mandarin. “Saya baru setahun belajar ilmu kopi, tapi sangat intensif. Instruktur saya di Amerika sudah senior dan bersertifikat dari SCAA (specialty coffee association of America).”


Kendatipun Indonesia berada pada urutan ketiga, negara penghasil kopi terbesar di dunia, tetapi pendidikan kopi masih sangat jarang. Sementara, program-program pelatihan kopi di Amerika juga sangat beragam. Ada peserta yang mengambil paket komplit, termasuk pengetahuan roasing, seduh kopi, tanam kopi sampai processing (pengolahan). Selain itu, ada modul (pelatihan) bisnis café, kedai kopi. Kalau mau belajar secara menyeluruh, waktunya (pelatihan) bisa sampai satu tahun.”

Foto-Foto: Setiawan Liu




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1767 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1015 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 853 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1280 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1209 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2612 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1463 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1179 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 927 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1128 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2436 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana