Ahok, Ridwan Kamil dan Bandung Bondowoso

Gan Pradana - Jakarta

Wednesday, 02 March 2016

www.bandungtimes.net

RIDWAN Kamil yang akan dimanfaatkan Partai Gerindra untuk “melawan” Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam proses pencalonan gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 mengeluarkan jurus jitu nan-cantik – juga elegan – guna memastikan ikut atau tidak Pilkada Serentak 2017 di Jakarta.

Wali Kota Bandung itu, Sabtu (27 Februari), menulis status di Fanpage Facebook-nya seperti ini: “Setelah dua bulan intensif memenuhi undangan sana sini dan mendengarkan aspirasi dari tokoh-tokoh lokal/nasional dan kelompok sana sini, sekarang saya dengan hormat meminta pendapat 1,6 juta warga Fanpage FB ini. Pertanyaannya: Perlukah saya pergi ke Jakarta untuk ikut Pilkada Gubernur DKI 2017 ? Mohon alasannya. Hatur nuhun.”

Kontan teman-teman Ridwan Kamil di FB memberikan reaksi hingga hari Minggu (28 Februari) saat saya menulis catatan ini. Berdasarkan pengamatan saya, sebagian besar komentator mengharapkan agar Ridwan Kamil tidak berangkat ke Jakarta meninggalkan kota Bandung hanya untuk dijadikan alat bagi elite politik tertentu yang tidak senang dengan Ahok.

Banyak yang mengingatkan jika Ridwan nekat ke Jakarta ikut Pilkada Serentak 2017 mendatang, karier pelayanannya sebagai abdi negara (silakan baca negarawan) akan hancur. Ada yang menyimpulkan, jika Ridwan “nyalon” ke Jakarta, maka yang dikejar Ridwan hanya popularitas dan ambisi pribadi yang terbungkus oleh ambisi elite politik parpol yang mengusungnya.

Saya sebenarnya sudah curiga (dalam pengertian positif) Ridwan Kamil dalam hati kecilnya menolak dicalonkan untuk DKI-1 oleh siapa pun, apalagi oleh “musuh politik” Ahok di sebuah parpol yang selama ini sangat terganggu dengan gerakan Ahok. Pasalnya, seperti pesan yang diungkapkan teman-teman Ridwan di FB bahwa Ridwan lebih cocok di Bandung, atau kalau mau “nanjak” nantinya, ya di Jabar-1 (gubenur Jawa Barat), bukan di Jakarta dan berjibaku dulu dengan Ahok.



Jika pun memang mau mengimbangi Ahok – ini menurut saya – Ridwan Kamil sebaiknya sama-sama maju lewat jalur independen, jangan tiba-tiba main keroyok dengan menumpang kendaraan partai. Tak sedaplah buat Ridwan kalau ia jadi (maaf) penumpang gelap di partai. Jika memang Ridwan serius, masih ada waktu, kok, untuk mengumpulkan sejuta KTP dukungan seperti yang dilakukan Teman Ahok.

Oke, sampai di sini, saya memberikan apresiasi tinggi buat Yusril Ihza Mahendara, mantan menteri, pengacara, dan ketua umum Partai Bulan Bintang, yang juga akan “nyalon” sebagai gubernur DKI Jakarta lewat jalur independen, dan mulai 1 Maret 2016 akan mengumpulkan sejuta KTP dukungan.

Semoga Yusril konsisten dengan apa yang telah diucapkan, sebab ia optimistis 1.000.000 KTP dukungan akan terkumpul dalam dua bulan. Jika di kemudian hari Yusril “nyalon” DKI-1 dengan menangkring mobil partai merek Gerindra, ya apa kata dunia? Bohong, dong Yusril.

Postulat itu saya pikir juga berlaku buat Ridwan Kamil, sekali lagi, jika ia mau maju untuk mengimbangi dominasi Ahok. Waktu dua bulan cukuplah. Kurun waktu dua bulan cukuplah bagi Ridwan ketimbang ultimatum Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso agar membuatkan seribu candi dalam semalam.

Saat itu Bandung Bondowoso belum punya akun di Facebook yang bisa dimanfaatkan menulis status kegiatan dan rencana kegiatan. Begitu pula Bandung Bondowoso tak punya akun di Instagram yang bisa ia manfaatkan untuk mengunggah foto candi-candi yang baru saja dibangunnya agar Roro Jonggrang kesengsem. Bandung Bondowoso juga nggak punya akun di Twitter dan bikin hastag “#capek ah” karena disuruh bangun seribu candi oleh sang pujaan hati.

Ridwan yang tinggal di Bandung dan menjabat wali kota Bandung punya apa yang tidak dimiliki Bandung Bondowoso, sebab Kamil hidup di era kecanggihan teknologi informasi. Ia manfaatkan itu habis-habisan. Ridwan bermain sangat cantik dan elegan. Ia menyapa jutaan sahabatnya di Facebook untuk membantu memberikan jawaban atas pertanyaan: “Perlukah saya pergi ke Jakarta untuk ikut Pilkada Gubernur DKI 2017?”

Para sahabatnya sudah memberikan jawaban: “Tidak perlu”.

Itu berarti Ridwan Kamil tidak perlu harus menjadi Bandung Bondowoso masa kini dalam rangka mengumpulkan 1.000.000 KTP dukungan dalam tempo dua bulan agar bisa mulus mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta. Yang jadi Bandung Bondowoso biarlah Yusril Ihza Mahendra. Ridwan juga tidak perlu memaksakan diri nekat naik “kuda tunggangan” Gerindra. Biarlah ia menjadi Bandung Bondowoso untuk menjadikan Bandung menjadi kota seribu taman. Ridwan masih dicintai warga Bandung.



LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1987 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1108 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 919 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1366 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1283 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2725 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1535 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1248 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1009 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1205 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2499 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana