Ilmu Yang Bermanfaat

Arawinda Paramitha - Bandung

Monday, 15 February 2016

Semalam gw menonton suatu film yang super, super inspiratif. Kenapa gw sebut super inspiratif? Pertama memang kisahnya luar biasa, yang kedua karena berasal dari kejadian nyata. Judulnya Freedom Writer, film ini diproduksi pada tahun 2007. Setting ceritanya di tahun 1994, masa ketika pertikaian antar gang berdasarkan etnis sedang panas-panasnya di Amerika.


Bercerita tentang seorang guru bahasa inggris baru di sekolah integrasi yang menerima murid dari seluruh etnis, dan mendapatkan kelas yang sangat challenging. Murid-murid yang dianggap bermasalah, dengan grade nilai variasi antara D dan F, beberapa anak memiliki kemampuan membaca di bawah usianya. Murid-muridnya menganggap sang guru sebagai outsider, tidak mengerti ‘perjuangan’ yang harus mereka lakukan hari per hari, karena sang guru mereka anggap bagian dari orang kulit putih yang menindas mereka dan keluarga mereka.

Sang guru adalah seorang idealis yang yakin dapat mempersatukan kelasnya dan yakin setiap anak memiliki potensi yang luar biasa, no matter where they come from. Beliau mulai memperkenalkan mereka pada literatur-literatur yang dianggap sekolah ‘terlalu tinggi’ untuk kemampuan menangkap murid-murid, tapi tetap diperkenalkan oleh sang guru karena memiliki kemiripan background dengan kisah hidup para murid. Agar mereka tertarik. Learning process starts when we interest to something, right?

Ketika remaja laki-laki tertarik pada dunia sepakbola mereka akan hapal setiap nama pemain, nomor punggung mereka, sejarah klub kesayangan mereka, tanpa ada ruang kelas dan guru yang mengajari mereka dari A sampai Z. Kenapa bisa? Karena mereka tertarik, sehingga mereka mencari tau, proses belajar dimulai. Kalau ada ujian seputar dunia sepakbola, kemungkinan besar nilai mereka bagus semua. Gampangkah mengingat itu semua? Bukankah mengingat itu semua mirip dengan pola belajar sejarah di sekolah? Mengingat angka (tahun kejadian vs nomor punggung pemain bola), nama (tokoh sejarah vs pemain bola dari berbagai club dan negara), kejadian (peristiwa sejarah vs detail kejadian dalam setiap pertandingan sepakbola), sama bukan? Jadi million dollar question nya adalah, mengapa ketika ujian sejarah tidak sedikit yang nilainya dianggap buruk? Setelah gw pikir masak-masak kemungkinan jawabannya adalah karena mereka tidak tertarik. Dan kemungkinan penyebabnya adalah, guru tidak berhasil membuat muridnya tertarik.

Teringat juga caption yang gw baca di salah satu Instagram Dian Sastro, iya Dian Sastro yang aktris film itu. Kurang lebih isinya begini, ketika mengingat guru-gurunya di masa lalu, guru yang paling memberi impact dan influence dalam hidupnya adalah guru Bahasa Indonesia. Membuatnya begitu tertarik dengan berbagai literatur, sehingga adalah seorang Dian Sastrowardoyo yang sekarang. Captionnya ini mengajak kembali kembali ke memori masa lalu..


Ketika duduk di bangku TK besar, gw punya satu momen yang sampai sekarang nempel banget di kepala. Di hari itu teman-teman kelas memutuskan untuk mengangkat suatu topik yang membuat gw jadi insecure. Memperbincangkan tentang progress kemampuan membaca mereka. Sudah hapal semua huruf lah, bisa baca 2 kata lah, bahkan ada yang sudah bisa baca kalimat. Gw hanya mendengarkan dalam diam, karena sama sekali belum bisa baca, huruf pun ga tau sama sekali. Alhamdulillah zaman itu belum sebrutal sekarang, untuk masuk Sekolah Dasar, anak belum diwajibkan bisa membaca.

Tibalah pada hari pertama pelajaran bahasa indonesia di bangku Sekolah Dasar, sang guru mengajarkan membaca. Ingat sekali momen itu. Gw sangat memahami proses berpikir Harry Potter yang memilih pengalamannya pertama kali terbang menggunakan sapu ketika belajar mantra Expecto Patronum, karena gw akan melakukan hal yang sama kalau jadi Harry. Gw akan memilih pengalaman belajar membaca di kelas 1 SD sebagai memori yang membuat bahagia. Guru itu menjelaskan dengan bahagia, tidak ada tekanan harus bisa, memperkenalkan membaca sebagai kegiatan yang seru. Masih ingat kata pertama, INI. Huruf I bertemu dengan N, dibaca In. Kemudian N bertemu dengan I dibaca Ni. Digabung menjadi INI. Buat gw di masa itu, mind blowing, seru abis. Gw sangat tertarik pada huruf dan proses membaca. Sejak saat itu semua yang ada hurufnya gw baca, setelah mulai lancar membaca, buku apapun yang nganggur di atas meja gw baca, koran pun dibaca.

Guru, jasanya luar biasa. Kalau gw tidak dibuat tertarik  dengan kegiatan membaca saat kelas 1 SD, tidak akan punya hobi membaca dan membaca banyak hal. Kalau gw tidak senang membaca banyak hal, tidak akan tertarik mencoba menulis, karena kegiatan ini gw pilih untuk menyalurkan semua informasi yang ada di kepala dan ditangkap oleh nalar ke dalam bentuk tulisan. Tidak akan ada Arawinda Paramitha yang sekarang, gw akan menjadi orang yang sama sekali beda (tanpa ada maksud nyama-nyamain gw sama Dian Sastro yaa, suerrr).

Sebegitu besar pengaruh seorang pengajar terhadap muridnya, entah seorang guru baru yang dianggap sebelah mata oleh rekan-rekan pengajar lain namun mampu mengantarkan murid-muridnya menjadi lulusan perguruan tinggi pertama dalam sejarah keluarganya, seorang guru yang memperkenalkan kekuatan menuangkan pemikiran ke dalam tulisan sehingga menghasilkan karya tulisan powerful yang menjadi salah satu New York Times Best Seller, atau seorang guru yang mengajarkan suatu hal simple seperti kegiatan membaca menjadi suatu yang menyenangkan sehingga muridnya bisa menghasilkan tulisan-tulisan di blog ini. Apapun itu, kalian telah mengantongi salah satu dari 3 amalan yang tidak akan pernah putus, ilmu yang bermanfaat..

Terima kasih untuk semuanya ya, Bu. Di mana pun ibu berada sekarang :*




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 434 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 648 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1349 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 876 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 966 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 747 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1134 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1741 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1075 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2432 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1326 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1077 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 831 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1014 kali | 0 Komentar
``


KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1741 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2331 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 648 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 434 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana