Pejabat Tionghoa

Setiawan Liu - Jakarta

Tuesday, 26 January 2016

Edy Putra Irawady: Pejabat Keturunan Tionghoa yang Belajar dari Pengalaman Dagang pada Masa Kecil



Edy Putra Irawady (Thung Yu Lam), adalah Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian ini mengaku berdarah campuran Tionghoa. Baginya, latar-belakang kehidupannya termasuk perjalanan karir sebagai pejabat public atau birokrat tetap tidak lepas dari budaya dan falsafah hidup orang Tionghoa.

“Saya berdarah perantauan. Nenek saya keturunan Tionghoa, tepatnya suku Hokian. Tetapi papa saya dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Darah saya, juga pebisnis sebagaimana orang Tionghoa di Indonesia pada umumnya,” jelas Edy kepada Redaksi saat ditemui di ruang kerjanya di bilangan Lapangan Banteng Jakarta Pusat.

 

Lalu mengapa ia beralih menjadi birokrat, atau pegawai pemerintahan selama kurang lebih 32 tahun. Ia melihat bahwa sejarah Indonesia pernah tercoreng (coret-coretan, kotor tidak keruan) dengan tindakan diskriminasi. Hal itu juga terjadi pada warga di Kabupaten Kuala Tungkal, Provinsi Jambi. Masa-masa dimana perlakuan diskriminasi terhadap orang Tionghoa merembet sampai pada kegiatan sekolah, politik dan hak-hak sipil lainnya. “Akhirnya kita (orang Tionghoa) hanya konsentrasi pada kegiatan bisnis. Hal ini terjadi pada diri dan keluarga saya. Sejak kecil saya kerja, dan bantu kedua orang tua berdagang, buka toko kelontong.”


Sebagaimana orang Tionghoa yang masih kolot, kegiatan perdagangan sangat bertumpu pada kepercayaan. Sementara bisnis keluarganya dari nol sempat menjadi pemasok kopra terbesar di Kuala Tungkal. Kakek Edyyang pertama kali merintis usaha perkebunan, logistic. Petani menjual kopra kepada kakeknya, dan sebaliknya semua kebutuhan petani dipenuhi oleh kakek Edy. “Petani beli gula, beras, baju di toko kami. Bisnis waktu itu hanya mengandalkan kepercayaan. Akhirnya kegiatan pinjam duit tidak melalui bank. Kami hanya menggunakan kertas kuning untuk setiap transaksi, termasuk pinjam meminjam uang. Kertas tersebut hanya dicoret seperti tanda-tangan.”

Suatu waktu terjadi kebakaran besar sampai melumatkan toko milik keluarga Edy. Kapal besar yang disewa untuk angkutan kopra juga akhirnya tidak terbayar. Karena semua barang hangus, tinggal debu. Bisnis dagang keluarganya bangkrut. “Tidak ada simpanan di bank. Karena bisnis orang Tionghoa pada saat itu belum mau berhubungan dengan bank. Bisnis kami hancur, dan kami mendapat pelajaran berharga. Kami merenung, bahwa apapun bisa terjadi dalam hitungan detik termasuk usaha yang bangkrut.”

Keluarganya kembali membangun usaha perdagangan. Edy juga urun rembuk, membantu kegiatan perdagangan kopra di kampungnya, Kuala Tungkal Jambi. Ketika pasokan kopra akan dikirim ke luar pulau,Edy bantu pengurusan izin. Birokrasi di pemerintah, mulai dari tingkat kabupaten (Kuala Tungkal) sampai provinsi Jambi sangat jelimet dan berbelit-belit.

“Pengurusan izin untuk pengiriman kopra ke luar pulau melalui birokrasi (perizinan) yang panjang. Padalah, mereka (pejabat) tidak tahu berapa kopra kami. Saya hanya bilang ‘kopra di Kuala Tungkal sedang over supply (kelebihan pasokan), panen berlebihan. Sehingga kami harus jual ke daerah (luar pulau).’ Setelah melalui proses panjang, surat izin antar pulau dari Gubernur keluar. Saya dari kecil sudah urus-urus (perizinan perdagangan). Mereka tidak pernah tahu bagaimana kondisi kopra, berapa di gudang, berapa jumlah panennya. Mereka hanya punya wewenang untuk tolak dan setuju (perizinan).”

 

Edy melihat bahwa birokrat pada pemerintahan Kuala Tungkal, Jambi lebih menonjolkan aroma kekuasaan. Sementara filosofinya, bahwa seorang pegawai pemerintahan atau pegawai negeri adalah pelayan public. Mereka harus memberi pelayanan kepada public. Karena public bayar pajak dan hasilnya untuk bayar gaji pegawai negeri. “Saya melihat birokrasi pada saat itu, merasa tertempa (terlatih, terdidik, ter-gembeleng) untuk bagaimana hidup kita tidak mempersulit orang lain.”

Sehingga ketika ia mencoba melamar menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Diterima. Ia mulai membangun budaya melayani. Pengalaman masa kecil membentuk mind-set (pola pikir) untuk membantu orang, melayani public. Apa jadinya, kalau pegawai pemerintahan (PNS) hanya pasif, menerima gaji setiap bulan dari negara. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa, sebaliknya berharap masyarakat antri di depan meja dan minta tanda-tangan pengesahan.

“Gaji yang saya terima sebagai pegawai pemerintahan dan sumpah jabatan saya (sebagai deputi Menko Perekonomian) tidak boleh mubazir (sia-sia). Saya tidak bisa diam saja, sementara orang merasakan kesulitan dengan urusan perizinan dan lain sebagainya. Pengalaman masa kecil saya, mendorong saya merintis karir selama 32 tahun bekerja pada birokrasi pemerintahan. Saya sudah melewati masa kerja di enam kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara), KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Amerika, Kantor Menko Perekonomian.”

Di sisi lain, Edy mengikuti falsafah hidup seperti air yang selalu mengalir ke tempat yang rendah. Tetapi air konsisten menjalankan tugasnya melintasi lubang-lubang besar, menerjang batu nan besar, walau kadang terhambat sampah nan hina. Begitu pula kehidupan seseorang seharusnya seperti tugas air, mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tetapi air tidak mengeluh, dan tidak terpuruk.

“Sehingga saya tidak pernah bisa hal-hal yang menonjolkan diri sendiri. Saya tidah pernah melihat kelemahan, kejelekan orang karena bisa menimbulkan kebencian, kesombongan. Kita tidak perlu melihat bahwa agama kita, suku kita, pendidikan kita, keluarga kita lebih bagus dari orang lain. Sehingga saya bergaul dengan orang Tionghoa, Batak, Jawa dan suku-suku lain. Saya tidak perduli apa latar belakang mereka. Tidak ada diskriminasi, yang penting mereka tahu bahwa saya umat Islam dan tidak makan babi. Sehingga saya minta mereka tidak bawa makanan daging babi.”

Selama 32 tahun bekerja pada pemerintahan, menjadi pejabat public, Edy mengaku siap dicaci maki. Banyak anggota masyarakat, termasuk LSM (lembaga swadaya masyarakat), pers dan lain sebagainya yang menilai bahwa birokrat tidak bekerja serius. Sementara fasilitas gaji, mobil dinas dan lain sebagainya jauh lebih tinggi dibanding masyarakat umum. “Fasilitas yang paling nyaman, paling tinggi kalau bekerja di pemerintahan sebetulnya (pejabat) BUMN dan perbankan. Kami di kantor Menko Perekonomian bekerja dengan resiko berat termasuk dipanggil KPK (Komisi pemberantasan korupsi). Tetapi kalau fasilitas, pejabat di BUMN dan perbankan yang paling nyaman.”

 

Edy mengaku bahwa gaji yang diterima sebagai Deputi pada Kantor Menko Perekonomian sekitar Rp 22 juta. Selain itu, ia menjabat sebagai komisaris, sehingga penghasilan sebulan sekitar 60 – 70 juta. Tetapi uang pensiunan, setelah tidak menjabat, ia hanya terima sekitar Rp 4 juta. Jumlah tersebut jauh lebih kecil ketimbang uang pensiunan pejabat BUMN dan perbankan. “Direksi BUMN bekerja dengan lembaga yang sudah tertata. Sementara perbankan adalah industry yang mendapat proteksi paling tinggi dari negara. Kadang saya tidak terima dengan kenyataan ini. Tapi saya menjalankan saja seperti filosofi air mengalir. Saya berharap, system remunerasi untuk pegawai pemerintahan bisa mencontoh model seperti Singapura. Gaji PNS Singapura tinggi, tetapi mereka betul-betul memberi pelayanan kepada masyarakat. Kami, di Indonesia juga kadang dicaci maki. Ada yang malas, tidak bekerja sungguh-sungguh, tetapi hanya segelintir. Akibat nila (racun) setitik, rusak susu sebelangga. Mobil dinas saya saja, sudah enam tahun nggak ganti-ganti.”

Foto: Setiawan Liu




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1767 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1015 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 853 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1280 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1209 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2612 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1463 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1179 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 927 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1128 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2436 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana