Berpuasa Sex dan Cinta

Ken Ajoe

Friday, 26 June 2015

Ada kisah tentang kecurigaan istri ke suarninya yang ditugaskan jauh darinya selama beberapa tahun. Begini , ceritanya. Seorang pria yang sedang ditugaskan di daerah selama beberapa tahun mengirim surat kepada istrinya. la meminta istrinya mengirim harmonika dan beberapa buku lagu. Katanya, ia ingin belajar bermain harmonika untuk mengusir kerinduan kepada sang istri tercinta. Si istri menuruti permintaan tersebut. Setahun kemudian, si suami pulang dan langsung mengajak bermesraan. "Oke," jawab istrinya, "tapi mainkan dulu beberapa lagu dengan harmonikamu," kata sang istri yang ingin tahu, apakah benar sang suami belajar memainkan harmonika untuk mengusir rasa rindunya.


Tak Selalu Buruk

Suami yang hidup jauh dari istri kerap diragukan "kesetiaannya". Soal nya, secara stereotipe, pria dianggap memiliki dorongan seks yang besar sehingga kemampuannya menahan hasrat amat diragukan. Tapi, jika Anda adalah salah satu dari sekian banyak istri yang terpaksa hidup terpisah dari suami tercinta dalam hitungan bulan atau tahun, boleh sedikit lega membaca hasil penelitian dari Peter Nelson, penulis buku Marry Like a Man.

Penelitian kualitatif yang dilakukan Nelson beberapa waktu lalu menyimpulkan, pria yang tidak berhubungan seks dengan pasangannya dalam waktu relatif lama, cenderung memiliki pandangan tentang cinta yang lebih baik daripada pria yang rutin berhubungan seks. Walaupun para pria awalnya mengalami tahap "menderita", akhirnya mereka biasanya bisa menjadi lebih "bijak", demikian menurut Nelson. Lalu, bagaimana ceritanya sehingga "penderitaan" para suami tersebut justru bisa membuat mereka lebih mencintai pasangannya?

Tahapan Pertama Paling Rawan

Menurut Nelson lagi, para suami yang terpaksa menjalani masa "puasa" dalam waktu beberapa bulan sampai beberapatahun biasanya mengalami tiga tahapan, yaitu tahap melemah, tahap menyentuh dasar, dan tahap penyembuhan. Lama berlangsungnya setiap tahap bisa berbeda dari satu pria dengan pria lain. Tahapan pertama tentu saja terjadi selama masa-masa awal "perpisahan" dengan pasangannya.

Pada masa ini, pria biasanya mengalami perasaan kesepian yang mendalam, yang kadang membuat frustrasi. Kerinduan kepada pasangannya dan juga aktivitas seks justru paling tinggi pada masa ini. Menurut Nelson, inilah tahapan rawan penyelewengan. Artinya, jika pria yang tidak "tahan", besar kemungkinan memulai perselingkuhannya pada tahapan ini.

Tahapan Kedua Timbul Kesadaran

Sedalam-dalamnya orang tenggelam, ia satu saat pasti akan mencapai dasar. itulah sebabnya, Nelson menyebut tahapan kedua ini sebagai touching the bottom. Pada fase ini, rasa sepi dan rindu pada pasangan atau "aktivitas bersama" yang biasa dilakukan mencapai puncak¬nya dan tak mungkin naik lebih tinggi lagi. Tahap ini merupakan titik balik emosi negatif yang dialami pria selama berada pada tahap pertama dan tahap awal untuk memasuki tahapan ketiga.

Pada tahapan kedua, si suami mulai dapat menyesuaikan dan mengatur emosinya. Mereka bisa menemukan kegiatan yang rnenyenangkan untuk dilakukan, dan dapat menghadapi kesepian yang mereka rasakan. Mereka juga menjadi lebih peka dan pada saat ini mulailah timbul pikiran-pikiran positif tentang istrinya, hubungan pernikahan, cinta, seks, dan sebagainya. Kesendirian memberinya waktu berpikir dan menata kembali konsep-konsep lama yang ia miliki. Jika ini terjadi, menurut Nelson, ia siap memasuki tahapan ketiga.

Tahapan Ketiga Pencerahan

Setelah mencapai dasar dan mengalami beberapa perubahan awal dalam pola pikirnya, sampailah suami kesepian tadi pada tahap terakhir, yaitu pencerahan. Menurut Nelson, pada tahap ini, pria yang jauh dari pasangannya mulai melihat cinta dari sisi yang lebih kaya. Seperti petani yang merindukan datangnya hujan saat kemarau panjang, pria yang puasa akan memandang pasangannya serta hubungan intim sebagai sesuatu yang berharga. Pandangannya terhadap makna perkawinan, kesetiaan, pengorbanan, bahkan tentang hidup biasanya mengalami definisi ulang.

Pencapaian visi baru inilah yang disebut Nelson sebagai pencerahan, pria menjadi lebih bijak dalam memandang hidup dan perkawinannya secara keseluruhan, itulah sebabnya, Nelson menyimpulkan dalam bukunya bahwa pria yang sempat berpisah selama beberapa waktu dengan pasangannya memiliki kebijakan yang tak dimiliki pria lain yang tak pernah mengalami itu.

Ketika akhirnya mereka berkumpul kembali, pandangan baru tersebut membantu pria untuk lebih memahami pasangannya dan dengan demikian keharmonisan rumah tangga juga terjaga.




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1987 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1108 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 919 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1366 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1283 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2725 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1535 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1248 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1009 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1205 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2499 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana