Pria Lebih Rapuh dari Wanita

Ken Ajoe

Wednesday, 17 June 2015

Pernah berpikir pria lebih kuat daripada wanita? Kalau Anda seperti orang kebanyakan, kemungkinan besar Anda pernah berpikir demikian. Tapi, sebuah penelitian menunjukkan pria cenderung lebih lemah dibanding wanita. Paling tidak, begitulah hasil penelitian sekelompok peneliti yang dipublikasikan dalam British Medical Journal


Sejak dalam Kandungan 

Kerapuhan pria bahkan sudah terlihat sejak mereka dalam kandungan, kata Dr. Sebastian Kraemer, psikiater terkenal dari Inggris. "Kesehatan fisik janin laki-laki dalam rahim lebih mudah terganggu dibanding janin perempuan," katanya.

Pendapat Kraemer itu bukan sekadar isapan jempol. Kesimpulan tersebut ia dapat setelah meneliti rasio laki-laki dan perempuan saat proses pembuahan dan setelah kelahiran.

Menurut dia, pada saat pembuahan, perbandingan rata-ratanya 120 janin laki-laki untuk setiap 100 janin perempuan. Adapun pada saat kelahiran, perbandingan tersebut menyusut menjadi 105 bayi laki-laki untuk setiap 100 bayi perempuan. Itu berarti ada sekitar 15 janin laki-laki yang gagal mencapai kelahiran.

Sebabnya, menurut Kraemer, ada banyak gangguan perkembangan fisik janin yang lebih besar kemungkinannya menyerang janin laki-laki daripada perempuan. Gangguan-gangguan itu antara lain kerusakan otak, serebral palsy, kelahiran prematur, dan janin yang tidak berkembang.

Berlanjut Setelah  Lahir

"Penderitaan" para laki- laki tidak berhenti sampai di  situ, tapi berlanjut setelah ia lahir. Menurut Kraemer, setelah ancaman biologis itu, anak laki-laki yang kemudian terancam oleh apa yang disebut Kraemer sebagai "penghinaan sosial".

 

Maksudnya, "Anak laki-laki dibesarkan untuk menjadi tangguh dan dibiarkan berusaha melindungi dirinya sendiri. Ini adalah reaksi emosional yang umum dialami orangtua anak laki¬laki yang menginginkan anak laki-lakinya lebih kuat daripada anak perempuan," kata Kraemer.

Padahal, menurut Kraemer, walau tak diketahui secara luas, perkembangan emosi anak laki-laki lebih terlambat daripada anak perempuan. Karenanya, anak laki-laki sebenarnya membutuhkan perhatian yang lebih besar dari kedua orangtua dan lingkungannya.

Menurut penelitian itu, perkembangan anak laki-laki lebih terlambat sekitar empat sampai enam minggu dibanding anak perempuan. Masalahnya, anak laki-laki biasanya lahir dengan berat dan panjang yang melebihi bayi perempuan. "Karena itu bercampur dengan stereotipe sosial anak laki-laki lebih kuat dibanding wanita, orangtua membedakan perlakuan anak laki-laki dan perempuan," kata Kraemer.

Tampak dari Perlakuan

"Orangtua sering merasa malu bahkan merasa bersalah jika mereka terlalu sering membelai dan mencium anak laki-lakinya," kata Kraemer. Anak perempuan yang menangis pasti akan segera mengundang orang-orang sekitarnya datang menolong. Tapi, tangisan anak laki-laki akan membuat orang-orang di sekitarnya datang untuk menyuruh dia berhenti menangis. Pasalnya, orangtua cenderung merasa anak laki-laki tak pantas menangis. "Kecuekan" lingkungan yang seperti itu, menurut Kraemer, nantinya akan menimbulkan banyak masalah, mulai dari hiperaktivitas sampai kekerasan masa remaja.

Selain itu, Leon Hoffman, psikolog dari New York, Amerika Serikat, menambahkan daftar "penderitaan"anak laki¬laki semasa awal kehidupannya. "Anak laki-laki menghadapi problem yang tak dimiliki anak perempuan. Mereka harus bisa menerima kenyataan bahwa diri mereka berbeda dengan ibunya, padahal sang ibulah pusat dunianya selama masa-masa itu," kata Hoffman. Karena itulah Hoffman menilai anak laki-laki lebih sering mengaalami kesulitan berpisah dengan ibunya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Selain perbedaan-perbedaan tersebut, Kraemer juga menunjukkan, pria pada dasarnya memang kurang mampu mengekspresikan perasaannya secara verbal dibanding wanita. Karena itu, anak laki-laki cenderung bertingkah ketika kecil untuk menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Ketika dewasa, para pria juga cenderung melarikan diri ke penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang. Mereka juga cenderung terkena penyakit yang berhubungan dengan sistem sirkulasi darah, dan di seluruh dunia umur rata-rata pria lebih pendek daripada wanita.

 

Bagaimana pencegahannya?

Kraemer menyarankan para orangtua lebih sensitif kepada anak atau bayi laki¬laki mereka. "Jangan biarkan konsep-konsep umum tentang anak laki-laki yang harus lebih tangguh dan tabah menguasai Anda. Sebagai bayi dan anak-anak, mereka membutuhkan perlakuan yang sama dengan anak perempuan dalam hal kasih sayang dan perhatian," kata Kraemer. Anda juga jangan sampai "tertipu" oleh penampilan anak laki-laki yang tampak lebih kuat. Biar bagaimanapun anak-anak masih memiliki jiwa yang labil. Dan, yang terpenting, "Katakan kepada anak laki-laki Anda, untuk menjadi seorang pria, ia tak diharapkan selalu tangguh," kata Kraemer.




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1987 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1108 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 919 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1366 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1283 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2725 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1535 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1248 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1009 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1205 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2499 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana