Tantangan Menjadi Dokter Hewan

Natya Featuring Hendwindnanda N.K.W.

Saturday, 30 May 2015


Apa cita-cita Anda saat kecil? Ingin menjadi dokter, insiyur, astronaut, atau bintang film? Adakah yang bercita-cita menjadi dokter hewan?

Nah, saya mengenal satu orang yang sudah menjalani profesi dokter hewan ini, Hendwinanda N.K.W.. Profesi yang sama mulianya dengan profesi lain, tetapi kalah populer dengan ginekolog, internis, atau dokter gigi.

Tanya (T) : Apakah cita-cita Anda saat kecil? Menjadi dokter hewan juga?

Jawab (J) : Yups! Dari kecil (SD) cuma ingin menjadi dokter hewan saja. Soalnya dari kecil, keluarga besar saya mempunyai piaraan anjing. Kebetulan, saya tinggal di Jakarta dan ada temannya Ibu saya yang profesinya dokter hewan. Nama beliau adalah drh. Koesharyono. Sampai kini pun, beliau masih eksis. Nggak jarang, keluarga saya juga mendapatkan hibah anjing-anjing ras dari pasien drh. Koesharyono.

Nah, kalau ada anjing-anjing kami meninggal, saya pasti nangiiis. Dari situ deh, saya berkeinginan menjadi dokter hewan.

T : Mengapa memilih profesi dokter hewan? Bukan profesi yang lebih komersial seperti ginekolog atau dokter gigi? Karena di Indonesia, dengan alasan keuangan, masih banyak orang yang kurang mementingkan kesehatan hewan peliharaan mereka.

J : Terus terang ya, saya nggak berpikir tentang hal itu. Apalagi saya lahir di era Soeharto, zaman yang (menurut saya) apa-apa mudah dan murah, sehingga saya nggak berpikir apa-apa tentang finansial ke depannya. saat ini pun, banyak kawan-kawan atau kolega yang beralih profesi meninggalkan atribut dokter hewannya untuk berbisnis atau bekerja di bidang lain.

Saya sendiri bukan orang yang pandai berbisnis, nggak bakat dagang. Dalam benak saya, profesi saya ya hanya untuk bekerja membantu hewan-hewan. Nggak mikirin bisnis.

T : Besarkah biaya studi yang harus dikeluarkan untuk menjadi dokter hewan?

J : Di zaman saya kuliah di IPB, masih terhitung murah. Dan kala itu, Fakultas Kedokteran Hewan amat sangat tidak favorit. Tapi sekarang, justru di IPB menjadi fakultas paling favorit yang diminati calon mahasiswa. Tentunya dengan seiring perkembangan zaman, alat-alat dan fasilitas kampus sudah diperbaharui. Tentu saja kini biayanya jauuuh lebih mahal.


T : Apakah profesi dokter hewan menjanjikan dari segi finansial?

J : Sangat menjanjikan. Beberapa rekan sejawat bahkan mempunyai beberapa cabang tempat praktik.

T : Hewan apa saja yang pernah dirawat? Adakah yang buas?

J : Begini, dalam profesi dokter hewan, ada pembagian minat. Dokter hewan yang membuka praktik disebut sebagai Dokter Hewan-Hewan Kecil (Small Animal Veterinarian) yang menangani : anjing, kucing, kelinci, dan beberapa hewan eksotis yang kecil-kecil. Ada juga Dokter Hewan-Hewan Besar, yang menangani ternak-ternak besar. Ada juga Dokter Hewan Kesmavet (Kesehatan Masyarakat Veteriner), yang menangani produk hasil hewan dan olahannya dsb.

Nah, kalau untuk kata buas, dalam arti kata hewan hutan seperti singa, harimau, gajah, dan satwa  lain yang dilindungi, saya tidak berhak menanganinya. Karena hewan-hewan itu harus ditangani oleh dokter hewan yang bekerja di kebun binatang. Kalau hewan yang dirawat di tempat praktik saya sih, ya standar Hewan-Hewan Kecil itu. Tetapi, banyak juga kucing liar, yang sangat galak dan  agresif. Biasanya dipungut dari penyayang hewan.



T : Adakah pasien yang begitu berkesan dan sulit dilupakan?

J : Hingga saat ini sih, belum ada yang sangat berkesan sampai spesial, ya. Malahan kucing saya sendiri yang paling berkesan hihihi. Saya memelihara kucing domestik/ lokal/kampung. Istilahnya DSH (Domestic Short Hair). Salah satunya ada yang bernama Ciplik. Dia meninggal tahun ini, di usia ke-13. Dia itu bagaikan "Ibu Suri" untuk kucing-kucing betina lainnya. Kalau betina lain melahirkan, dia yang membantu merawat anak-anaknya, padahal dia belum pernah hamil seumur hidupnya.

 

Lalu ada Bulky, kucing jantan saya yang jadi pasiennya drh. Koes. Ada batu yg menyumbat di saluran kencingnya, hingga dilakukan "operasi ganti kelamin". *

Ada juga si Tengleng. Tengleng adalah kucing yang membuat saya merasa berdosaaaaa banget! Ceritanya, suatu hari, saat saya dan Kakak hendak berangkat bekerja, Kakak melihat ada kucing sekarat di depan rumah. Dia memberi tahu saya. Ketika saya melihat si kucing ... hopeless banget, deh! Sudah nggak ada harapan hidup! Jadi, saya biarkan saja. Saya pikir, paling-paling nanti malam sepulang praktik juga dia sudah meninggal. Eh, ternyata …. ternyata dia masih hidup!  Tanpa pikir panjang,  langsung saya bawa masuk ke dalam rumah. Saya meminta bantuan Ibu untuk merawatnya. Tengkuk kucing itu sudah penuh dengan belatung. Saya menyesaaal banget sudah cuekin dia. Seakan Yang Maha Kuasa saat itu menegur saya : "Kamu itu dokter hewan! Masa  nggak mau nolong! Sudah tahu dia ditaruh di depan rumahmu, artinya dia butuh pertolonganmu!"

Syukurlah, sampai kini dia sehat, meski kepalanya miring (mungkin dulu akibat ada yang menabrak dia).


 

T : Selama menjadi dokter hewan, kasus paling sulit apa yang pernah Anda hadapi? Atau pernahkah terluka karena pasien?

J : Kasus paling sulit adalah ketika kita berhadapan dengan kasus penyakit yang memang belum ada obatnya. Misalnya pada kucing, ada penyakit Feline Infectious Peritonitis (FIP). Vaksinnya ada, tapi tidak manjur. Pengobatannya belum ada. Kucing yang menderita penyakit ini, dipastikan umurnya tidak panjang. Kurang dari 2 tahun sisa hidupnya. Coba deh, bisa nggak kita bayangkan apa reaksi pemiliknya ketika kucingnya divonis seperti itu. Sedih ... pakai banget.

Pernahkah terluka oleh pasien? Hahaha ... iya dong ... pastinya! Terluka oleh kucing peliharaan saya saja sering, kok. Bahkan, melukai saya lebih parah daripada kucing-kucing pasien.

T : Siapa orang yang paling berpengaruh dan berjasa dalam karir Anda?

J : Terus terang, saat SMA, nilai-nilai pelajaran saya banyak yang jeblok. Saya terpukul, down, dan stress. Ketika ada penawaran PMDK dari IPB, saya tidak lolos. Tambah drop, deh. Lalu ketika ujian UMPTN akan dimulai, saya nggak menyiapkan diri, karena sudah hopeless kelar nggak diterima di FKH IPB. Sedang kawan-kawan lain sibuk belajar di berbagai lembaga pendidikan, les sana-sini, belajar kelompok dsb. Tiga hari menjelang UMPTN, saya baru ngumpulin bahan pelajaran. H-2 saya sibuk mencatat yang penting-penting. H-1 saya mulai belajar. Edaaan gaaak! Apalagi, saat itu harus bawa pensil 2B dan alas datar. Saya mengandalkan pensil 2B sisa try out yang pernah diadakan sekolah. Alasnya pun seadanya. Nggak tahu dah, apa itu. Lalu, selepas ujian UMPTN, saya saat itu berpikiran untuk bekerja di perhotelan aja. Saya mengikuti ujian di Universitas Sahid di Pondok Cabe, Jakarta, dan ENHAII di Bandung. You know what? Saya lulus dari kedua universitas tersebut. Nah, saya pikir inilah jalan saya!

Tetapi ketika pengumuman hasil UMPTN diumumkan di Harian KOMPAS, Kakak melihat nama saya tertera di sana. Haaah? Masa, siiih? Dengan malasnya (karena belum bangun tidur), saya melihat koran itu, sambil berpikir pasti Kakak lagi ngerjain saya. Eh, benar nama saya ada.

Sepertinya, memang saya sudah ditakdirkan menjadi dokter hewan. Saat itu galau lagi,  deh. Mau menjadi dokter hewan atau di perhotelan? Ibu yang mendorong saya untuk mengambil FKH IPB. Awalnya saya ragu-ragu. Hingga semester  tiga pun, saya masih ragu. Tapi, seiring waktu, cita-cita terpendam sejak kecil pun akhirnya muncul kembali.  And this is me, dokter hewan di dunia yang menggilai SCM hahahaha.

T : Jika ada yang berminat mengikuti jejak Anda menjadi dokter hewan, advis apa yang akan Anda berikan?

J : Belajar kepada siapapun. Karena dunia kedokteran hewan semakin maju. Tiap praktisi dokter hewan mempunyai pengalaman sendiri-sendiri. Jangan sombong. Harus mempunyai kepribadian yang kuat, dan siap mental menghadapi berbagai karakter manusia. Inilah seni menjadi dokter hewan, menangani pasien hewan sekaligus menangani mental pemiliknya. Hanya dokter hewan yang bisa melakukan hal itu. Cucok kan!

Baru-baru ini, drh. Hendwinanda pergi ke Thailand untuk menghadiri Kongres WSAVA (World Small Animal Veterinary Association). WSAVA adalah Asosiasi yang beranggotakan dokter hewan di seluruh dunia.

Berikut adalah foto-foto drh. Hendwindnanda saat beraksi di ruang operasi dan di Kongres WSAVA.




Keterangan :

* Saluran kencing kucing jantan dan betina berbeda. Urethra jantan lebih kecil hingga ke penis. Jadi, kalau kucing jantan mengalami kesulitan urinasi berkali-kali atau sering ada batu yang menyumbat saluran kencing, maka penisnya dihilangkan, urethra diperlebar, dijahit menyerupai kelamin betina, agar kencingnya lebih lancar.

 




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1987 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1108 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 919 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1366 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1283 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2725 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1535 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1248 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1009 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1205 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1159 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1966 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2499 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 904 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 640 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana