Banks Peninsula yang Rupawan

Syu - Netherland

Monday, 09 September 2013

(Serial Kelayapan di Aotearoa Bagian VIII)

Kami menikmati roti panggang di ruang makan bersama sebelum melanjutkan perjalanan. Aku sempat hampir salah arah karena lorong-lorong yang mesti dilalui dari kamar menuju ke sini terasa panjang dan membingungkan. Untung suamiku mengikuti dari belakang sambil menyerukan petunjuk jalan.

Sambil mengunyah kupandangi warna warni suram di sekeliling. Mereka yang melankolis atau memiliki kecenderungan depresif sebaiknya tidak menginap di tempat ini. Aku yang tergila-gila pada novel Agatha Christie, memandang ini semua sebagai sebuah misteri. Bertanya-tanya dalam hati, cerita yang tersembunyi di balik dinding-dinding kelam. Saksi bisu suka duka puluhan atau bahkan ratusan pengelana dari berbagai penjuru dunia.

Langit mendung ketika mobil meluncur meninggalkan Christchurch. Aku senang bukan kepalang berpisah dari kota untuk menemui kawasan Banks Peninsula. Hamparan pulau yang dilengkapi dataran bergunung-gunung di tengah-tengahnya, namun terbelah-belah oleh lautan di sana sini pada berbagai tempat di ujung-ujungnya, sehingga terbentuk teluk-teluk nan indah dilengkapi ekosistem alam yang melingkupi.

Ini adalah deskripsi pengelana awam yang menjabarkan sesuatu lewat pengamatan mata telanjang. Bisa jadi penjabaran ini dianggap ‘kekanak-kanakan’ di mata para ahli geografi. Bagaimanapun juga, penjelasan tersebut adalah jembatan keledaiku untuk mengingat perjalanan lalu.

Kami menuju kota Akaroa yang terletak di sisi perairan. Seperti biasa, mobil terpaksa berhenti berkali-kali karena pemandangan indah yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Suamiku yang berada di belakang setir, mesti hati-hati agar tidak terpaku oleh keindahan sekitar. Foto stop? Tanyanya berkali-kali. Sesekali kami menggunakan pause ini untuk sekaligus mengecek rute yang harus dilewati.

Suasana kota mungil Akaroa sangat jauh berbeda dari daerah yang sebelumnya kami inapi. Lebih tenang, adem dan begitu ‘ndeso. Kami memarkir mobil dan berjalan kaki ke pusat kota sambil menghirup udara laut dalam-dalam. Hmmm…nyaman sekali.

Bergaya bak penduduk setempat, langkah-langkah mantap kami bergerak menyusuri toko-toko lokal. Kami menyempatkan diri membeli makanan kecil serta minuman di sebuah supermaket imut. Bekal ini kami bawa berjalan hingga menuju tepian perairan.

Sebuah jembatan kecil dibangun di atas air dengan pondok kecil di ujungnya. Ingin rasanya berjam-jam termenung-menung syahdu di dalam pondok sambil menikmati riak-riak air laut, desahan angin serta keripik kentang buatan lokal.

Niat awal ‘mengucapkan selamat tinggal’pada Akaroa dan langsung menuju ke kota selanjutnya terhalang oleh sebuah museum Maori dan Kolonial di Okains Bay.

Tampak sederhana, bahkan beberapa objek-objeknya terhampar begitu saja di lapangan rumput luas serta udara bebas.

Ternyata koleksinya melebihi standard yang kami sangka, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Menarik sekali!

Banks Peninsula merupakan daerah paling bawah di pulau selatan yang bisa kami capai. Waktu yang mendesak membuat kami mesti berbalik arah dari sini untuk bisa berada kembali di pelabuhan Picton pada waktunya.

Dari sini kami mengarah kembali ke kota Christchurch dan mengambil arah pesisir laut menuju kota Kaikora. Sekali kami mengambil jeda panjang di pantai Wakuku.

 

Sekelompok remaja putri berbikini dan seekor anjing cilik dengan bulu-bulunya yang menguncup karena basah, berdiri di tepi pantai nan luas. Sinar mentari yang cerah tak kuasa mengusir dinginnya angin laut. Aku tak habis pikir dengan pakaian minim mereka yang jelas jauh dari hangat. Dalam hati aku bersyukur karena melengkapi diri dengan topi penangkal cahaya mentari serta kostum lengan panjang celana panjang pelindung angin.

Safe by the clothes! Istilah pribadiku untuk situasi-situasi macam ini. Di pasir pantai inilah aku sempat menikmati keripik kentang lokal sambil duduk di atas patahan batang pohon yang sudah udzur, tidak jauh dari tempat kami memarkir mobil. Maklum, keripik kentangku bisa beterbangan bila nekat duduk terlalu dekat dengan air laut.

Takut kehabisan tempat bermalam, kami langsung memburu penginapan begitu tiba di tempat sasaran. Kaikora terletak persis di tepi laut. Kami ‘menembak’ motel yang pertama dijumpai. Seekor burung camar bertengker di atas papan namanya.

 

Sesuai dengan namanya, di seberang jalan tepat di depan hotel berdiri anggun sebatang pohon pinus.

Seperti biasa, insting awal hampir selalu benar. Juga kali ini. Masih tersedia kamar untuk berdua yang nyaman dengan harga terjangkau.

Untunglah…Musim panas rupanya tak berlaku di Kaikora. Kami merasa kembali ke musim dingin di Belanda.

Sebelum mencari makan malam, kami bergegas menggunakan terangnya hari untuk mengeksplorasi lokasi sepanjang pesisir yang lebih jauh.

Awan gelap menyelimuti langit, seolah akan jatuh menutupi lautan luas. Kami berhenti di lokasi koloni anjing laut.

Cuaca yang kurang bersahabat barangkali membuat hewan-hewan buntal tersebut tidak menampakkan batang hidungnya sedikitpun.

 

Setelah beberapa menit kami termanggu-manggu ria sambil mengagumi alam luas, samar-samar tampak seekor anjing laut dalam posisi tidur di atas karang-karang pantai.

Saking asyiknya menikmati laut, lami terlambat mencari makan malam. Untuk mempercepat waktu, fast food fish & chips kembali jadi pilihan. Kami merasa diistimewakan. Biarpun resto kecil itu sudah mau tutup, mereka masih menyempatkan diri menerima pesanan dan menunggu kami menyelesaikan makan malam.

Aku memesan risol isi sayur juga karena rindu sama masakan rumah. Kaget juga melihat ukurannya yang dua kali lebih besar daripada di Indonesia. Apalagi porsi ikan goreng tepung serta french fries-nya di atas standard normal kami.

Ah, perut kenyang, mata lelah, kaki-kaki pegal, sudah waktunya mempersiapkan diri berlabuh ke pulau mimpi… 




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 448 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 658 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1374 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 884 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 975 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 761 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1148 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1751 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1087 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2451 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1339 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1095 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 841 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1023 kali | 0 Komentar
``


KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1751 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2339 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 658 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 448 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana