Gue, Elo VS Aku, Kau dan Kamu

Farvel - Spanyol

Friday, 16 November 2012

Beberapa hari yang lalu aku membaca berita di Yahoo Indonesia. Aku terhenyak dengan isi berita yang menyebutkan kalau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sangat khawatir pada pengujung abad 21, bahasa daerah di Indonesia yang tadinya berjumlah 746 bahasa terancam menyusut hingga tinggal 75 bahasa.

Hah!! Yang benar?

Yah benar saja, bayangkan maraknya fenomena orang-orang yang berasal dari daerah acap kali menggunakan "gue", "elo". Daripada "aku" , "kau" , "kamu" atau penggunaan bahasa asli dari daerahnya sendiri. Orang - orang yang dari luar daerah kota Jakarta seakan - akan bangga dengan penggunaan kata - kata ragam Betawi ini karena bisa dianggap lebih berkelas atau lebih modren.

Sangat jarang kita mendengar kata - kata asli daerahnya digunakan dalam berkomunikasi dengan sesama teman. Mereka lebih merasa berkelas dengan penggunaan bahasa ragam Betawi. Atau mungkin juga malu kalau sampai dianggap kuno dan tidak gaul. Entahlah..

Hiks..hiks..hiks.. * Miris*

Aku tidak pernah bisa membayangkan kenapa sampai terjadi fenomena seperti ini. Terus terang, kalau boleh jujur aku lebih suka menggunakan kata - kata asli dari kotaku. Ngomongnya lebih bisa mengalir cepat seperti air sungai, daripada harus ber "gue", "elo" dan lain sebagainya. Lebih enak dengan penggunaan kata : "aku" atau "awak", "kau" atau "kamu".

Tapi dengan penggunaan kata - kata itu justru aku lebih sering merasa, takut dianggap kasar atau tidak sopan daripada dianggap tidak modern atau tidak gaul.

Penempatan kata "aku", mungkin lazim di katakan oleh semua orang. Bahkan para selebritas papan atas jakarta sekalipun. Tidak percaya? Lihat saja tayangan - tayangan infotaiment yang ada di Indonesia. Dengarkan kalau mereka kadang - kadang mengucapkan kata "aku" untuk penyebutan diri mereka sendiri.

Trus kenapa aku takut di anggap kasar atau tidak sopan?

Dengan penggunaan kata : "kau". Bukankah penempatan kata ini dianggap kasar kalau orang yang dari luar kotaku mendengarnya? Padahal orang - orang disana memang menggunakan kata "kau" untuk pengganti kata kedua tunggal. Jadi bagi kami orang - orang yang berasal dari kotaku penggunaan kata "kau", yah dianggap biasa saja dan "normal", seperti KoKiers mendengar kata "elo" , atau kata "kamu".

Memang harus aku akui, sejujurnya aku mau juga menggunakan kata - kata ragam Betawi tsb. Aku menggunakannya melihat situasi dan kondisi. Artinya aku tau batas - batasnya. Dan aku tidak pernah menggunakannya ketika aku sedang mudik dan berada di rumah atau bergaul bersama teman - temanku.

Sebenarnya fenomena bahasa betawi ini bisa di atasi asal kita bangga dengan bahasa lokal kita. Bangga dengan menggunakannya walaupun kita berada di komunitas umum sekalipun. Asal orang - orang yang mendengarkannya bisa menghargai dan menghormati penggunaan bahasa lokal lawan bicaranya.

Benar tidak?

Hmm.. aku rasa benar. Karena dengan sikap saling menghargai dan menghormati dengan perbedaan, kita secara tidak langsung memahami bahwa Indonesia mempunyai beragam logat dan bahasa daerah.

Karena kadang - kadang banyak diantara kita, menertawakan logat dari seseorang. Padahal kenapa harus tertawa?

Bukankah kita semua tahu kalau negeri kita Indonesia mempunyai beragam - ragam bahasa dan logat daerah? Hargailah kalau ada salah satu teman kamu yang masih sangat kelihatan logat daerahnya. Dengan begitu kamu ikut melestarikan warisan budaya nenek moyang.

Perlu di ingat juga, dengan pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijinjing".

Artinya, yah kalau kamu sedang berada di daerah mana pun berusahalah untuk mengikuti gaya bahasa yang ada di tempat kamu sedang berada tanpa melupakan bahasa asal kamu dan mencoba untuk menghilangkan logat kamu.

Ada sebagian orang yang baru saja pulang dari Jakarta, sudah merubah serta merta logat bahasanya. Walau terkadang sering terdengar aneh ditelinga si pendengar.

Kenapa?

Supaya dibilang tetangga kalau kamu sudah modern? sudah berkelas? Ha.ha.ha... Hey!  Kamu salah besar. Malah perasaan ini jadi sedih karena kamu sudah melupakan bahasa lokalmu. Dan identitas kedaerahanmu jadi terkikis.

Banggalah dengan logat dan bahasa daerahmu. Ingat! Bahwa bicara dengan bahasa daerah atau logat kedaerahan bukanlah sesuatu yang ndeso atau kuno. Mari kita lestarikan ragam bahasa warisan dari nenek moyang kita.

Sumber: Yahoo Indonesia dan berbagai sumber.




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 448 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 658 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1374 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 884 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 975 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 761 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1148 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1751 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1087 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2451 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1339 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1095 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 841 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1023 kali | 0 Komentar
``


KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1751 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2339 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 658 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 448 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana