Abah Oji, Tentara yang Mulia

Wawan Sam Adinata - Bandung

Friday, 20 May 2011

 

Ini adalah kisah seorang veteran, tentara sederhana, yang mengabdikan hidupnya untuk lingkungan. Berbeda dengan gaya hidup dan sepak terjang para jendral yang terjun ke dunia politik. Tulisan ini hanya mengungkap sisi baik dari perjalanan hidup yang tersisihkan. Semoga bermanfaat.

 

 

Setiap subuh, Pratu Oji membangunkan warga dengan adzannya yang khas dan enak didengar. Setelah maghrib, ia ngawaruk mengajarkan iqro kepada anak-anak kampung. Pada siang hari, ia menjaga pintu rel kereta api tradisional di dekat kampungnya di mana kereta api lewat dengan tiba-tiba. Konon, sebelum ada pintu darurat, pernah ada warga yang tertabrak kereta. Begitulah keseharian mantan tentara yang akrab disapa Abah Oji.

Tidak ada yang mengetahui Abag Oji adalah legendaris dalam dunia militer Indonesia. “Ini karena Abah Oji hanya seorang prajurit,” ujar Abah Karma, teman Abah Oji. “Ia konsisten dalam pangkat, masuk Pratu, pensiun pratu,” lanjutnya seraya bergurau.

Batas-batas negara atau propinsi terjauh dari Jakarta, seperti Papua, Timor Leste, Aceh, pernah disinggahinya. Pertempuran-pertempuran pernah dijalaninya. Tapi, Abah Oji seperti trauma kalau diajak ngobrol tentang masa lalunya. “Malu,” katanya. Ia malu dengan keluarganya karena sudah menjelajah pelosok tanah air, tapi hingga menjelang ajal masih mengontrak bededng, bukan rumah, di kampungnya.

Tidak demikian dengan masyarakat di sekitarnya. Mereka sangat menghormati Abah Oji karena anak-anak mereka bisa mengaji berkat didikan Abah. Selain itu, jarangada warga yang tertabrak kereta api berkat ketekunan Abah menjaga pintu kereta api. Bahkan, ternak pun tidak ada yang tertabrak. Bentuk hormat kepada Abah Oji ditunjukkan dengan sebuah kepercayaan. Masyarakat mempercayai Abah Oji untuk memelihara masjid kampung. Biasanya, saat jumatan, Abah Oji membersihkan masjid, mempersiapkan karpet, dan lain-lain.

Tubuh Abah masih sehat dan tegap di usianya yang sudah senja. Dia hanya berolahraga dengan membakar sampah dan membersihkan selokan, tidak main golf. Makannya pun tempe bace dan lalapan. Ketika ditanya alasannya tidak makan daging ayam, Abah Oji menjawab sudah lama tidak makan daging untuk menjaga kesehatannya. “Maklum sudah tua,” imbuh Abah. Ia pernah berkelakar, di kampungnya, orang yang makan daging biasanya karena dua hal. “Pertama, orang sakit yang keburu mati disembelihkan ayam untuk teman makannya. Kedua, ayam yang sakit disembelih sebelum keburu mati,” ujarnya sambil terkekeh.

Abah Oji jadi figur panutan sampai akhir hayatnya. Warga sekampung pun menyolatkan jasadnya, Mereka mengantar Abah Oji ke pemakaman. Menurut warga, Abah Oji menghadap Ilahi tanpa sakit terlebih dahulu. Ia meninggal tiba-tiba. Padahal Abah Oji sudah lama mengidap penyakit yang mematikan. Namun, ia tidak pernah mengeluh apalagi mengiba-iba dan menjual jasa perjalanan hidupnya. Hal itu tidak pernah dilakukannya.

Kepergian Abah Oji membuat anak-anak di kampung menangis. Mereka mempunyai satu cita-cita, ingin menjadi tentara seperti Abah Oji. Menjadi seorang Pratu, tidak lebih.

Untuk mengenang Abah Oji, namanya dijadikan nama jalan di kampung tersebut. Jalan Pratu Oji.




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1767 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1015 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 853 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1280 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1209 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2612 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1463 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1179 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 927 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1128 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2436 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana