Kabut di Rura Silindung

Nuchan - Jakarta

Wednesday, 17 June 2009


Dear Zevie yg terkasih, ini artikel masih merupakan rangkaian perjalanan saya napak tilas dari Jakarta-Pekan Baru-Sumatra Timur-Danau Toba-Kabanjahe-Berastagi-Sibolangit-Medan-Jakarta.

Semoga menambah wawasan buat semua sahabat saya yg ada di berbagai penjuru dunia...he..he..

Pamali

Setelah bertahun-tahun berlalu, ini pertama kalinya saya dan kakak-kakak saya bepergian dalam satu mobil berempat, 2 wanita dan 2 pria ditambah seorang ponakan perempuan saya, Inggit  maniz dan centil, dalam jarak jauh. Setelah makan malam dengan menu sate, kami meluncur dari Pekan Baru pukul 20:00 malam. Perjalanan dari Pekan Baru sampai Sumatra Timur yg direncanakan 7 jam ternyata meleset menjadi  8 jam. Tapi hal itu tak mengurangi kegembiraan kami.

Sepanjang jalan kami bercengkerama dan tertawa-tawa gembira mengenang masa-masa remaja kami yg lucu dan cenderung \'kamsek\' kampungan sekali he he he. Ditengah derai tawa kami itu, ada pikiran aneh yg menyelusup di benak saya, karena ada mitos yg mengatakan kalau orang tertawa terlalu gembira katanya tak lama lagi akan  menangis atau akan  ada kesedihan yg mendera. Dan kalau bepergian sekeluarga dalam satu mobil juga kurang baik, kata orang tua saya, itu  pamali. Aneh bukan buatan, kenapa pikiran itu muncul di saat-saat begini. Padahal saya tak terlalu percaya mitos-mitos seperti ini.Tak urung hal ini membuat detak jantung saya berdebar-debar lebih kencang seperti genderang mau perang takut kalau-kalau terjadi kecelakaan mobil ...ihh serem banget. Tapi saya pun tak ingin membagi keresahan saya dengan kakak2 saya yg lainnya, maka untuk menutupi galau hati saya, saya pun kembali tertawa-tawa riang sembari berusaha menepis pikiran buruk tersebut.

Akhirnya pukul 4 dini hari kami sampai di Sumatra Timur dengan selamat. Puji Tuhan kegalauan hati saya tak terbukti.Thanks God!.Mata saya sudah terserang kantuk yg luar biasa karena tidak tidur semalaman, takut kalau abang saya ditinggal tidur, dia pun akan nyetir dalam keadaan terkantuk-kantuk, bisa berbahaya. Sampai di rumah, kami masuk kamar dan tanpa basa-basi lagi kami langsung bablas tidur sampai pukul 12 siang. Oh nikmatnya luar biasa rasa kantuk saya terbayar lunas nas nas.

Pesta makanan dan buah-buahan

Selama 4 hari di Sumatra Timur, saya benar-benar berpesta dengan makanan dan buah-buahan yg lezat-lezat. Lidah saya dimanjakan segala jenis buah yg sedang musimnya, ada manggis,rambutan,salak,duku,cempedak,jeruk dan durian yg murah meriah memabukkan. Bangun pagi, jangan harap Anda sarapan pagi di rumah, tak ada kamus seperti itu di sini. Setiap pagi saya sarapan pagi di pajak. Yg dimaksud pajak di sini adalah sebutan untuk pasar pagi atau pasar tradisional jadi bukan kantor pajak yah ha ha ha. Anda mau makan apa? Mie pangsit, mie kuah, mie goreng,bihun goreng, nasi pulut (ketan) pakai serundeng kelapa dan diatasnya diberi goreng pisang atau nasi campur,nasi bubur ayam,terserah pokoknya serba lezat zat zat...

Dan yg nga nahan banget adalah minum kopi susu cap nona dan kopinya pasti kopi Sidikalang boooo...alamak tak terkirakan nikmatnya, saingan sama kopi susu yg di Belitung Island, pulau sejuta warung kopi.Maap Mba Aimee jangan protes yah sayang! Walaupun sulit mengakuinya, saya tetap memilih kopi susu Belitung yg ternikmat No.1, sudah tak bisa pindah ke lain hati he he he. Tuntas sudah rindu saya terhadap keluarga dan kerabat serta makanan dan buah-buahannya.

Pematang Siantar dengan Roti Ganda\'nya

Jumat malam saya sudah mengepak semua barang-barang saya, karena besok Sabtu  pagi kami akan berangkat menuju  Danau Toba dan sekitarnya. Dari sana saya akan kembali ke Jakarta via Bandara Udara Polonia Medan. Pukul 8 pagi kami sudah meluncur, direncanakan kami akan singgah dulu di Pematang Siantar untuk membeli Roti Ganda dan Kue Kacang yg tersohor itu. Kalau Anda ke Pematang Siantar dan tidak singgah untuk membeli Roti Ganda atau Kue Kacang, waduh, itu haram hukumnya, yah rugi sekali, sama seperti kalau Anda ke Padang dan tak singgah untuk membeli krupuk Sanjay ke Toko Kue Christine Hakim yg ternama itu,cilaka 12 namanya he he he. Ketika sampai di Siantar, Toko Roti Ganda ini sudah sangat ramai dikunjungi pembeli. Ramainya pembeli justru membuat kepala saya pusing mau membeli roti yg mana, dimana-mana serba antri. Saya putuskan membeli Roti Ganda yg pakai Srikaya dan beli Kue Kacang rasa kacang hijau. Memang makyusss rasa roti dan kue kacangnya, pantesan yg antri kayak ular he he he.

Kecewa

Jarak tempuh dari Siantar ke Danau Toba ternyata tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu tak lebih dari 20-30 menit saja dengan mobil pribadi, tergantung kecepatan mobil Anda. Jalanan beraspal hitam mulus dan berkelok-kelok, meskipun tak seheboh Kelok 44 yg ada di Sumatra Barat. Sepanjang jalan ditumbuhi pinus-pinus yg rimbun dan tumbuh menjulang sangat tinggi sekali seolah menantang langit.Buah-buah pinus yg bertebaran di sisi jalan,mengundang keinginan saya untuk berhenti dan memunguti\'nya untuk dijadikan semacam hiasan Natal,sekaligus saya ingin memotret hutan pinus itu, pasti sangat indah di kamera saya. Tapi  abang saya melarang berhenti, takut mengganggu lalulintas katanya. Terpaksa saya urungkan niat saya, meskipun merasa kecewa.

Disambut kabut

Memasuki perbatasan Danau Toba, udara dingin mulai menusuk tulang saya. Saya buru-buru pakai jaket tebal dan memeluk ponakan saya Inggit untuk menghalau rasa dingin yg menyergap. Tubuh saya memang sangat rentan dan tak kuat terhadap udara dingin, 20 derajat celcius buat saya sudah kategori sangat dingin. Tentu Anda yg sudah terbiasa tinggal di Eropa akan tertawa mendengar hal ini. Walaupun saya paling suka melihat gunung salju tapi saya tak yakin tubuh saya akan sanggup menghadapi musim dingin seperti Anda, jangan-jangan saya bisa terkena serangan Hypothermia...ihh serem.

Jalanan terlihat berkabut dan hujan rintik-rintik mulai turun, menyambut kedatangan kami. Nun di kejauhan mulai terlihat Danau Toba yg tenang dan sepi. Walaupun berkabut tak mengurangi keindahannya yg luar biasa. Saya minta abang saya supaya berhenti di sebuah warung kopi yg terletak di tepi jalan. Tangan saya sudah tak sabar pengen mengabadikan momen ini. Mobil kami pun merapat menuju salah satu warung kopi yg terletak pada posisi yg strategis, untuk memandang Danau Toba. Suasana di warung kopi sepi, hanya kami berlima pengunjungnya, tampaknya udara dingin dan senja yg berkabut membuat orang malas berada di alam terbuka, lebih asyik bergelung dibalik selimut tebal...he he he.

Dingin-dingin begini tentu yg paling nikmat buat saya adalah menghirup kopi pahit yg panas.Membayangkan wangi kopi Sidikalang saja sudah membuat tubuh saya merasa hangat he he he. Kami berempat memesan kopi panas dan kacang garing Sihobuk dari Parapat. Saya duduk di bangku kayu sembari meluruskan kaki, melayangkan pandang ke danau,tak lama kemudian saya sudah terbenam dalam lamunan saya.



Kabut di Rura Silindung

Semilir angin dingin menyapu kulit wajahku
Udara bersih mengalir masuk ke rongga dadaku
Sangat ringan dan menyegarkan
Menyalurkan nafas rindu  kehidupan

Dari kejauhan terlihat pucuk-pucuk cemara bergoyang-goyang
Diterpa angin dingin dari bukit yg berkabut
Seolah-olah sedang berbisik
Menyampaikan pesan sunyi tak berbatas
Bunyi gesekan-gesekan dahan cemara yg lembut
Terdengar seperti nyanyian dawai biola senja yg melenakan sukma dan raga

Mataku tak jua ingin beranjak
Melihat biru\'nya air danau
Danau tenang dan sepi
Seperti menyimpan sejuta misteri
Hanya berselimut kabut tipis
Bukit-bukit yg dipenuhi pohon-pohon cemara yg lebat
Menambah sempurna lukisan abadi ini
Ahhh betapa melenakan berpeluk kabut di Rura Silindung

Nuchan@12-2008



MAKAM KELUARGA : Ph Sinaga & HT Br Simanjuntak
Panatapan Sibaganding - Parapat

Persis di dekat warung kopi ini, saya menemukan sebuah kuburan keluarga Batak yg sangat mewah. Letak kuburan mewah ini sangat strategis, memenuhi unsur-unsur yg pas dalam feng sui China. Dikelilingi bukit-bukit dan hutan cemara yg lebat, dan di depannya terhampar  Danau Toba.Benar-benar cocok untuk tempat " Rest in peace" he he he.

 

 

 

Tak jauh dari seberang jalan warung kopi ini ada Monkey Forest. Dan beberapa dari monyet-monyet ini terlihat berkeliaran dekat warung kopi ini. Menunggu diberi kacang garing Sihobuk.Ponakan saya Inggit sangat senang memberi makan monyet-monyet ini dengan kacang. Dan sesekali Inggit berteriak keras karena terlihat gemas dan geram pengen menyentuh kepala sang monyet he he he. Habis monyetnya juga sexy dan menggemaskan sich... Selain monyet-monyet ini terlihat sexy, mereka juga tidak nakal.Cukup disogok dengan kacang...he he he.

Mencari hotel

Ketika senja mulai merangkak menjemput malam,kami pun bergegas meninggalkan warung kopi ini dan segera turun ke kota Parapat untuk mencari hotel yg dekat dengan pinggir danau. Kami berputar mengitari beberapa hotel tapi rata-rata fully booked. Gimana nga penuh, dalam kondisi peak season begini, kami nekat tak memesan hotel dari jauh-jauh hari. Walaupun sempat bete, akhirnya kami menemukan hotel yg masih ada kamar kosong\'nya, di Darma Agung Beach Hotel milik keluarga Pardede. Anda tahu khan keluarga Pardede? Salah satu orang terkaya di Indonesia di era 80an. Kalau tidak tahu pun tidak apa-apa koq, tidak dihukum he hehe iseng.com. Beliau adalah pemilik Danau Toba International Hotel, RS Ibu dan Anak Hermina, Universitas Darma Agung,Klub Sepak Bola Pardede Tex dan masih sejibun bisnis yg lainnya.



Semua mobil tamu di parkir di bagian atas. Bangunan hotel ini terdiri dari 3 lantai.  Kamar tamu ada di lantai dasar dan persis menghadap ke biru\'nya Danau Toba. Ketika tidur Anda bisa mendengarkan suara deburan air danau yg lembut mengelitik.Ahh rasanya ingin setiap malam merasakan suasana tidur yg nyaman seperti ini he he he. Ketika check-in, saya sedikit kaget karena harga per kamar yg ditawarkan tidak terlalu mahal, untuk Double Bed hanya 300ribu/malam. Saya pikir cukup murah, selain view\'nya menghadap danau, fasilitas di kamar pun cukup lengkap...he he he asyik.

 

 

Makan malam yg asyik

Diluar masih gerimis, tapi kami harus makan malam di luar hotel. Abang saya dan kakak saya pengen makan ikan mas yg di-arsik dan daging saksang. Tapi dua menu ini tak ada yg bisa saya makan, karena sejak kecil saya tak pernah tega makan ikan mas. Dulu sewaktu kecil kami punya kolam ikan mas, dan saya suka memberi makan ikan-ikan mas yg lucu ini, sehingga tak pernah terbayangkan oleh benak saya untuk menelan ikan-ikan mas ini...ihhh koq terasa sadis sekali he he he. Dan saya pun tak makan daging saksang lagi, sejak tahun 1998 saya memilih puasa makan daging. Akhirnya saya hanya makan ikan teri balado yg dikasih pete, nikmat dan asyik. Dan makan sayur singkong yg ditumbuk sampai lumat kayak bubur, diberi kuah santan kelapa, rasanya nikmat sekali, biasanya disebut sayur daun ubi tumbuk, plus pakai sambel cabe rawit yg diberi andaliman.

Andaliman ini bijinya mirip kayak lada tapi warnanya rada hijau tua. Cabe rawit digiling dan diberi sedikit andaliman ini, maka ketika dicolek dan dimakan bareng ikan teri balado plus sayur daun ubi tumbuk tadi wadooohhhh nikmat sekaleeeee tapi selesai makan mulut rasanya bengkak kayak terbakar karena pedasnya tidak bisa langsung hilang...iiihhh pedas pedas nikmat, sampai menitikan airmata saking pedasnya he he he.

Gladi Resik Pesta Rondang Bittang

Selesai makan malam kami singgah di sebuah pendopo yg sedang ramai dengan muda-mudi dan dari kejauhan terdengar alunan musik Simalungun yg sangat  lembut mendayu-dayu di telinga saya. Alunan musik merdu ini  memaksa kami untuk singgah dan menonton 100 orang muda-mudi sedang melakukan latihan Tor Tor. Tor Tor adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Batak.Dan kali ini mereka membawakan tarian Batak Simalungun.Tampak sang guru dan beberapa pejabat setempat sedang sibuk memberikan pengarahan kepada muda-mudi tsb. Karena besok 14 Desember 2008 adalah puncak Pesta Rondang Bittang, Kabupaten Simalungun. Gerakan tarian yg mereka bawakan sangat lembut dan memerlukan kelenturan jari-jemari tangan dan tumpuan kaki yg harus kokoh karena sambil menggerakkan tangan, mereka akan meliuk-liukan tubuh mereka sampai posisi terendah ke bawah, dan naik kembali ke atas dengan gerakan lembut yg mempesona. Saya pikir itu membutuhkan energi dan latihan yg intensif.
 

 

 

 

Terlelap

Pukul 10 malam kami balik ke hotel,gerimis belum berhenti. Suasana malam benar-benar dingin sekali.Jaket tebal yg saya pakai pun tak sanggup menghalau rasa dingin yg menusuk tulang. Saya bahkan mematikan AC di kamar. Bertiga kami tidur berpelukan,kakak saya,ponakan saya Inggit dan saya sembunyi dibalik selimut tebal.Dan kami tidur terlelap ditemani deburan air danau.

Kicauan Burung

Pukul 6 pagi saya terbangun karena kicauan  suara burung di dekat jendela kamar saya. Mata saya masih mengantuk dan tubuh saya enggan beranjak dari tempat tidur. Saya hanya menggeliatkan tubuh saya sekejab dan mencoba meluruskan kaki saya, tapi tampaknya udara pagi yg masih dingin berembun membuat saya malas melepaskan selimut tebal yg membalut tubuh saya. Tiba-tiba ponakan saya Inggit yg pengen pipis menarik-narik tangan saya untuk menemaninya ke kamar mandi. Ahhhh walaupun malas, saya tak kuasa menolak permintaan ponakan saya tersayang. Dengan wajah lugu yg memelas dia bilang : Tante, mau pipis. Saya tersenyum melihat mimik wajahnya yg lucu he he he.


 

Disapa danau biru.

Setelah selesai menemani ponakan saya pipis, saya membuka jendela kamar. Wahhh, saya berdecak kagum,luar biasa, saya disapa pemandangan danau biru yg indah sekali. Suasana pagi yg sepi hanya ditemani suara burung-burung yg sedang berkicauan. Seketika rasa malas saya terbang menguap entah ke mana. Saya segera mencari kamera saya untuk mengabadikan suasana ini.

 


 


 

Air danau yg biru dan bersih menggoda perasaan saya untuk berenang. Tapi dingin-dingin begini apa nga keram tubuh saya kedinginan? Lagian saya nga bawa baju renang. Tapi godaan untuk berenang ini semakin berkecamuk di benak saya. Seperti biasa saya selalu kalah dengan godaan ini ha ha ha. Saya bergegas kembali ke kamar membangunkan kakak saya. Dan bilang : saya mau berenang di danau, tapi nga punya baju renang. Terus dia bilang, yah udah kita beli saja di depan toko-toko souvenir itu kaos-kaos murah dan celana pendek yg bisa dipakai buat berenang. Akhirnya dalam keadaan belum cuci muka kami pergi ke atas mencari toko souvenir yg sudah buka. Heran bukan buatan, masih pagi begini sudah ramai toko-toko souvenir yg buka he he he.

Sementara kakak saya sedang sibuk dengan acara tawar menawar harga, saya malah sibuk sendiri memotret toko-toko souvenir ini. Dan secara tak sengaja dari balik toko ini saya melihat air danau yg ditimpa cahaya mentari  pagi, dan terlihat dari kejauhan barisan bukit yg membiru. Wah menyenangkan sekali, kemana pun kaki melangkah,kita akan disapa danau biru.Amazing!

 


 

 

Budaya Penglaris

Belanja pagi hari memang lebih enak, selain udaranya masih segar, para penjual pun masih segar bugar. Harga yg ditawarkan pun umumnya rada miring karena sebagai penglaris katanya. Sembari menepuk-nepukan uang yg kita beri ke barang dagangannya. Budaya penglaris ini hampir sama di seluruh Indonesia, ke mana saja saya pergi selalu sama, pernah belanja lukisan di Pasar Ubud-Bali, pagi-pagi sekali saya sudah keliling cari lukisan. Dan saya tertarik dengan lukisan bunga tulip,beruntung saya bertemu langsung dengan pelukisnya. Pagi-pagi banget kami sudah terlibat tawar menawar yg alot,ketika cocok harga, dia pun menepuk-nepukan uang yg saya berikan ke lukisan yg lainnya he he he.Ada-ada saja.

Jangan mati dulu, sebelum Anda berenang di Danau Toba

Kami kembali ke hotel dengan tentengan kaos-kaos dan celana pendek yg baru.Rasanya saya sudah tak sabar ingin segera terjun ke danau. Dipinggir danau belum ada penghuni hotel yg lain. Saya hanya berpapasan dengan petugas hotel yg sedang membersihkan halaman hotel. Saya sangat exciting. Kakak saya dan ponakan saya pun tak mau kalah pengen terjun ke danau. Melihat kami bertiga yg semangat pengen berenang abang saya dan adik laki-laki saya pun jadi ikut terpancing pengen berenang juga. Akhirnya kami berlima terjun ke danau. Ahhh minta ampun dinginnya. Dalam tempo 20 menit saja tubuh saya sudah menggigil kedinginan. Jemari saya mengkerut. Bibir saya gemetar membiru. Kakak saya buru-buru menarik saya ke luar dari air danau dan mengajak saya segera berendam air hangat. Walaupun menggigil kedinginan, saya tak merasa menyesal. Setidaknya saya sudah mencoba berenang di Danau Toba. Kalau dalam artikel terdahulu,Bp.Handoko - Solo bilang : "Jangan mati dulu, sebelum Anda datang ke Danau Toba" maka kini saya ganti jadi " Jangan mati dulu, sebelum Anda berenang di Danau Toba" he he he...

 

 

Sarapan pagi

Puas berendam air hangat dan mandi pagi, kami pun sarapan pagi berlima, makan nasi goreng ditambah telor ceplok, lumayan enak. Sehabis sarapan pagi kami segera berkemas-kemas karena mau langsung check-out. Rencananya kami akan melanjutkan perjalanan menuju Kabanjahe dan Berastagi.Tapi sebelum melanjutkan perjalanan, saya ingin mengitari Danau Toba dulu mencari beberapa spot untuk pemotretan, tetap saja masih narsis booo...Rasanya rugi sudah jauh-jauh datang ke sini tapi nga berphoto-ria he he he.

 



 

 

Suasana pagi hari di pendopo, tempat akan berlangsungnya  Pesta Rondang Bittang 14 Desember 2008.Acara puncak di adakan pukul 12 siang hari. Tapi tampaknya kami tak bisa menyaksikan seluruh acara ini, karena harus segera melanjutkan perjalanan lagi. Sayang sekali.

 

 

Salah satu group marching band sedang berparade mengitari jalan utama,kemudian akan menuju pendopo tempat berlangsungnya pesta.

 

 

Parade becak bermotor yg sedang membawa pasangan muda-mudi yg memakai pakaian adat tradisional Indonesia, sedang menuju pendopo.

 

 

Saya sedang membidik kamera saya, ke arah gereja yg dibangun di puncak bukit. Kemampuan kamera saku saya sangat terbatas,sehingga tak mampu menampilkan gambar gereja secara lebih dekat. Hasilnya jadi sedikit pucat, tapi tetap indah bak lukisan bukan?

 

 

Barisan bukit-bukit yg mengelilingi Danau Toba, terlihat bak lukisan. Tapi sayang sedikit pucat warnanya he he he...cuaca memang sedikit berkabut...tapi cukuplah untuk menghadirkan keindahan yg sesungguhnya ha ha ha. Dilarang protes!

 

 

 

Danau Toba yg dikelilingi bukit-bukit barisan dan hutan cemara yg lebat. Saya tampilkan dua-duanya karena saya bingung mana yg lebih menarik buat Anda.he he he.

 

 

 

Ratusan burung sedang terbang bebas di atas danau biru. Membentuk siluet yg fantastis bombastis buat saya pribadi ha..ha..ha..Hampir 10 menit saya berusaha membidik burung-burung yg terbang bebas lepas ini...Sulit mendapatkan sudut yg pas, karena saya berdiri ditepi jurang, takut kecebur ke danau he he he...

Tak ada kata yg tepat dan sempurna untuk melukiskan keadaan ini. Saya pun tak ingin berpanjang kata. Sepertinya saya sedang menemukan sepenggal surga di sini, di Rura Silindung. Rura na dumenggani! Rasanya tak ingin berpisah, tapi kami harus melanjutkan perjalanan kami kembali. Dan saya berjanji akan kembali lagi " Tu Rura Silindung Juni 2009"

Catatan :  Danau Toba biasanya disebut RURA SILINDUNG buat masyarakat Batak.

 




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1767 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1015 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 853 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1280 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1209 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2612 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1463 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1179 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 927 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1128 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1074 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1873 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2436 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 817 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 569 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana