Jemari Tukang Pijat Itu

Reef Australia

Tuesday, 19 October 2010

Dear Dad/Ta\'s dan Kokier di manapun anda berada, salam damai dari Oz

Prolog
Suatu siang menjelang sore, saat  gerimis  mulai turun.

Ini bukan pertama kalinya aku dipijat oleh tukang pijat kesayangku. Tukang pijat yang senantiasa kunantikan. Diapun tidak pernah menolak semua permintaanku. Tangannya yang kokoh makin akrab dengan kulitku, sungguh ngangeni. Namun entah kenapa kali ini terkesan sedikit lain. Jari yang biasa antep terasa sedikit loyo, kurang greng. Kelelahankah dia?Jika benar, sungguh aku merasa bersalah, namun apa daya semuanya sudah terlanjur. Toch dia sudah menyatakan sanggup.

Ketika aku mulai merebahkan diri di atas dipan dengan sprei putih bersih, akupun hanya pasrah, aku sudah nyerah total mau diapakan. Toch dia sudah hafal setiap inci kulitku, dan sudah tahu apa yang harus dikerjakan tanpa kuminta sekalipun dan ini bukan merupakan yang pertama bukan?

Akupun sudah hafal akan suara batuknya yang kadang-kadang memecah kesunyian. Sore itupun sambil memijat kulitku, senyum sumringah di wajahnya makin bersinar. Mulutnya kadang menggumam tidak jelas, terkadang diselingi dengan pertanyaan tidak berarti.  Kerut di wajahnya seolah menghilang dibalik sumringah senyumnya. Suaranya makin semangat. Mungkin membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah aku selesai dipijat. Ah, ini kesempatan, aku akan memijatnya dengan sepenuh hati dan selembut mungkin, begitu kira-kira yang ada di benaknya. I don\'t mind somehow.

Dan benar, kali ini tangannya yang kokoh mulai terasa lembut di kulitku yang telanjang. Aroma tanah yang segar karena disiram hujan lamat-lamat menusuk hidungku berbaur dengan bau minyak oles nan hangat menyeruak hidung.  Membawa nuansa tersendiri. Makin sejuk, makin terasa romantis. Guyuran air hujan di atas genting seperti ritme tersendiri. Aku makin terlena, merem melek pasrah tergolek dan mulai menikmati tangan-tangan kokoh tukang pijat kesanyangku berdansa dansi di atas kakiku yang kemudian kian merayap ke atas, dan ke atas lalu.........

Dear Kokiers,
Di KoKi jaman dulu, pernah aku menulis artikel tentang tukang pijat kesayanganku, yang selalu setia kapanpun aku meminta. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah suamiku sendiri. Walapun sejatinya dia bukanlah ahli pijat, namun kuakui pijatan-pijatannya sungguh nyaman. Tangannya yang kokoh dan kekar, apabila bersentuhan dengan kulitku, akan berubah menjadi lembut dan lunak.  Biasanya sambil memijat, dia akan mengajak diskusi tentang apa saja. Persoalan-persoalan sehari-hari yang tidak penting. Kadang saking banyak berbicara, membuat kupingku rada jenuh, karena sering dia akan mengulang-ulangi kalimat yang sama.

"Duh jangan banyak bicara dong, just let your hand do the talking!\' keluhku setiap kali.
"Yeah..yeah..." selalu begitu jawabnya

Namun baru beberapa detik, mulutnya sudah kembali berbicara. Ya, aku hanya bisa diam dan pasrah mendengarkan \'ocehannya\'  sambil menikmati pijatan-pijatannya yang kadang-kadang disertai dengan pijatan nakal.  Whatever lah..! Yang penting aku enjoy.

Di tempat kami tinggal, memang ada beberapa massage parlor namun harganya selangit jika dibandingkan dengan di Indonesia. We simply can\'t afford itEman-eman duit. Aku selama ini belum pernah mencoba ahli pijat yang benar-benar profesional di Townsville. Selama ini cukup si tukang pijat andalan yang selalu available di rumah.

Lain dengan suamiku, dia beberapa kali mencoba ke ahli pijat. Seringnya sih, ke tukang pijat yang buka praktek pijat di hari Minggu saat ada Sunday Market. Mereka lebih murah dibanding dengan rumah pijat yang men-charge 60 dollar per jam. Tukang pijat yang praktek di Sunday Market hanya men-charge 40 dollar saja. Tempatnyapun jauh lebih terbuka, kadang hanya ditutup dengan selembar gorden tipis. Mereka yang berani turun harga dan membuka praktek di Sunday Market kadang menghasilkan uang lebih banyak. Karena harga yang murah dan juga tawaran pijat untuk durasi 10 menit, 15 menit, 20 menit ataupun yang setengah jam saja.

Di salah satu Sunday Market yang sering kami kunjungi, ada ahli pijat yang menggunakan metode Thai massage. Pemijatnyapun orang Thailand asli. Tubuhnya yang pendek nampak kekar dan cekatan. Sebut saja Tek. Dia baru saja tiba di Australia. Dia menikah dengan bule Australia. Dan karena dia mempunyai keahlian memijat, maka dimanfaatkannyalah keahlian ini dan kesempatan ini tidak disia-siakan. Bermodal sebuah dipan kayu kecil dan kain sebagai penutup biliknya, dia melakukan prakteknya. Sementara suaminya bertindak sebagai juru bicara merangkap resepsionis.

Pijatan wanita ini membuat suami ketagihan. Hampir setiap hari Minggu, kami berkunjung di depotnya. Dan dengan minyak khas pijat buatan asli Thailand, si Tek mulai mengurut-urut tubuh suami yang makin merem melek. Menikmati setiap detik pijatan si Tek. Metode pijatannya selain menggunakan sepasang tangannya yang kokoh, dia juga menggugunakan sepasang kakinya untuk menginjak-injak punggung pasien. Yah, untung Tek bertubuh mungil walau nampak kekar sehingga membuatnya lincah untuk \'naik\' ke atas pasiennya. Suamikupun menjadi tuman.

Sampai di suatu hari Minggu, seperti biasa kami ke Sunday Market tersebut dan siap menjadi pasien si Tek, kali inipun aku berniat mencoba pijatan si Tek. Namun alangkah kecewanya hati ini karena kami tidak menjumpai depot si Tek. Kami coba bertanya-tanya dan memperoleh jawaban, bahwa kemungkinan si Tek praktek di tempat lain. Memang ada beberapa Sunday Market di kota kami dan sudah merupakan hal yang normal seorang penjual akan berkeliling di Sunday Market yang ada di kota. Minggu ini di Market A, minggu berikutnya di Market B dan demikian untuk selanjutnya.

Berasumsi demikian, hari Minggu berikutnya, kami mendatangi depot si Tek lagi, namun kami harus menelan kekecewaan. Si Tek tetap absen. Demikian juga untuk hari Minggu selanjutnya. Sampai artikel ini ditulis, kami tidak pernah melihat Tek membuka praktek lagi. Sampai kira-kira beberapa bulan lalu, di Sunday Market yang lain, saat kami menikmati cappucino di sebuah bangku, mataku melihat sosok perempuan mungil maskulin khas sosok Tek si tukang pijat yang lewat tidak jauh dari tempat kami duduk. Perempuan itu mirip sekali dengan Tek, namun karena jarak rada jauh, aku sendiri tidak yakin apakah perempuan tersebut benar Tek atau bukan.

Semenjak kehilangan Tek, suami beberapa kali mencoba dengan tukang pijat lain yang buka praktek di Sunday Market juga, namun inipun tidak berlangsung lama. Mereka kadang buka kadang tidak, lebih sering tidaknya. Apa boleh buat, keinginan untuk menikmati pijat harus ditahannya.

Dear KoKiers,
Suamiku adalah seorang pijat lover. Dia suka sekali dipijat, Hal ini berkaitan dengan sakit punggung yang dideritanya selama puluhan tahun. Sudah sering  melakukan fisioterapi dan ke dokter ahli punggung namun tidak membuatnya bebas dari sakit punggung. Konon sakit punggung yang dideritanya adalah permanen. Bermula dulu ketika dia masih remaja, dia pernah mengalami patah tulang punggung. Semenjak itulah punggungnya tidak pernah bebas dari sakit punggung.

Jika sedang berada di Indonesia, baik di Salatiga maupun di Jakarta, pertama-tama yang dicari adalah jasa tukang pijat. Dan selama lima tahun terakhir dia rupanya sudah menemukan tukang pijat andalan yaitu tukang pijat tuna netra yang berlokasi di jalan Fatmawati Jakarta Selatan. Lokasi yang sangat strategis mengingat biasanya kami selama di Jakarta tinggal di daerah Fatmawati. Jika sedang berada di Jakarta, beberapa hari sekali, kami berkunjung di ahli pijat tuna netra ini. Dan karena sudah menjadi langganan, para tukang pijat di sana sudah hapal dengan kami. Walau tidak bisa melihat, namun rupanya pendengaran mereka sangat tajam.

"Oh Pak Londo...apa kabar? Kapan datang?" sambutnya di suatu sore di akhir bulan September ini.
"Assalamualaikum," jawab suamiku menyapa Pak Was, nama si tukang pijat langganan kami. Jawaban salah sambung tentunya. Maklum si Paijo ini tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali.
"Waalaikum salam Pak Londo, silahkan..silahkan Pak " jawab Pak Was. Senyum lebar menghias bibirnya.
"Bapak masih ingat kami pak?" tanyaku
"Tentu Mbak..mana kami dapat lupa dengan Pak Londo dan Mbak Reef.  Mari Mbak silahkan" tambahnya dengan suara ramah.

Kami duduk di kursi di ruangan sempit yang disediakan sebagai ruang tunggu sementara Pak Was menyiapkan ubo rampe. Di luar, langit nampak makin gelap, titik-titik airpun mulai menetes tipis yang makin lama semakin membentuk tirai air yang cukup tebal. Suasana makin syahdu. Kami asyik bincang-bincang ketika Pak Was menyatakan sudah siap dan mempersilahkan suami untuk masuk ke bilik pijat.

"Seperti biasa ya pak, yang dipijat hanya punggung bagian bawah saja." ujarku pada pak Was sesuai pesan suamiku.

Saat aku asyik menunggu, aku dikejutkan dengan ketokan pintu. Istri Pak Was berlari-lari dari dapur dan membukan pintu. Nampak sesosok perempuan tuna netra setengah baya yang sore itu mengenakan jilbab warna krem dan matanya ditutup dengan sepasang kaca mata hitam. Tangannya menenteng sebuah tas tangan yang rupanya berisi baju-baju. Ibu ini baru datang dari kampung habis mudik lebaran. Aku yang mendengarkan dialog singkat antara Ibu berkaca mata hitam yang wajahnya sudah sangat familiar tersebut dengan istri Pak Was cuma bisa mbatin, hebat sekali ibu ini, dalam keadaan hujan lebat, tuna netra pula, pulang dari kampung dan bisa selamat sampai di tempat tujuan. Sendiri tiada yang menemani.  Ketika kutanyakan kepada ibu ini saat memijatku beberapa hari kemudian, jawaban-jawabannya membuatku kagum sekaligus terpana. Maha Besar Allah.

"Ibu pulang dari kampung sendirian?" tanyaku
"Iya mbak, sudah biasa" jawabnya santai.
"Tidak nyasar?" kejarku bloon
"Oala mbak, ya tidak. Ibu sudah sering pulang sendiri, ya cuma diantar sampai stasiun saja."
"Kemaren naik bus atau kereta?"
"Naik bus, turun di lebak Bulus, tinggal naik Metro mini nomor 79 dan turun di depan itu Mbak. Sekarang enak, bus langsung ke Lebak Bulus, dulu kan hanya sampai Pulau Gadung saja."
"Pernah ada orang usil Bu, yang berniat jahat atau gimana?"
"Alhamdulillah belum Mbak, malah ibu suka diantar atau diseberangin begitu. Banyak yang menolong."
Aku manggut-manggut.
"Lha kok bisa tahu kalau ini tempat ibu tinggal? Kok nggak salah ketuk rumah?"  kejarku penasaran
"Kan ibu bawa tongkat Mbak, pula di depan suka diantar sama tukang ojek sampai di depan rumah ini, jadi ibu tahu persis."
Aku makin manggut-manggut.
"Punya anak berapa Bu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
"Satu Mbak, sudah kelas dua SMP"
"Maaf apa tuna netra juga?"\' tanyaku. Pertanyaan ini aku ajukan setelah mendengar bahwa mantan suami ibu ini adalah tuna netra juga.
"Enggak Mbak, Normal. Mantan suami ibu sekarang mah sudah punya istri lagi, juga tuna netra," lanjutnya menawarkan diri.
"Ooooooooooo.....tinggal di Jakarta juga?"
"Iya, di daerah Jakarta Utara."

Dari arah kamar sebelah, sekali-kali terdengar erangan nikmat suamiku yang juga sedang menikmati pijatan Pak Was.

Sungguh nikmat sekali menikmati pijatan orang yang tahu benar arti memijat. Dan selama pulang kampung, bagiku merupakan kesempatan emas untuk pula memanjakan diri. Selain melakukan perawatan muka dan rambut tentu, pijat lulur dan pijat kesehatan tidak boleh diabaikan. Yah mumpung. Kapan lagi menikmati surga dunia ini. Untungnya apa yang aku inginkan didukung penuh oleh suami. Wajar selama sebulan di Jakarta dan dua minggu untuk suami, kami benar-benar menikmati setiap detik tinggal di Jakarta.

"Yoooooooooo I love Jakarta, I love the smell of Jakarta and here I am now."  Ucapnya tidak henti-henti begitu mendarat di Jakarta. Dan saat kami terjebak kemacetan yang luar biasapun, si Mister ini tanpa henti mengembangkan senyum lebarnya. Dik Sat yang menyopir pun asyik menimpali. Sementara itu dari bangku belakang aku memijati dengan mesra leher suamiku yang walau nampak kelelahan namun mood-nya lagi high. Oh How I miss this man.

"Jakarta...Jakarta...never changes...," katanya senang. Matanyapun asyik mengembara ke mana-mana menikmati kemacetan ibukota.
"Feel the rhtym," aku menimpali.

Epilog.
Jakarta 28 September 2010 menjelang sore, saat hujan mulai melebat.

Aku yang asyik terlena dengan pijatan tangan kokohnya makin asyik terbenam dengan angan-angan indah. Membayangkan apa yang akan kurasakan setelah menikmati pijatan-pijatan ini. Pipiku mulai menghangat mengingat prospek yang akan terjadi. Khususnya malam nanti, sesuai janjinya. Saking asyiknya melamun, kantukpun mulai menyerang. Mata terasa berat. Suara hujan di atas genting terasa seperti lulaby. Aku diambang mimpi ketika ujug-ujug kurasakan sepasang tangan kokoh nan lunak menepuk pundak dan kudengar suaranya yang masih renyah,

"Sudah selesai Mbak...bagaimana rasanya?"
 Uppppppppps..aku tersentak kaget dan buru-buru melek. Senyum Ibu yang memijatku masih mengembang. Matanya yang walau tidak bisa melihat seakan ikut tersenyum
"Terimakasih Bu" Ucapku lirih sambil meraih bajuku yang tergantung di hanger di sebelahku.
"Silahkan Mbak.." katanya sambil  memberikan kesempatan kepadaku untuk mengenakan baju. Dari kamar sebelah, suara suamiku menyapa. Rupanya dia sudah selesai juga.
"Have you finished Chookie?"
"Yeah..and How are you, did you enjoy it?"
"Of course, I really did, beberapa hari lagi kita ke sini lagi, tolong bilang ke Pak Was."

Ah indahnya pulang kampung..............

Salam manis,

Reef Australia.

 

 




LUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


BERIKAN KOMENTAR ANDA






Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia

William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 570 kali | 0 Komentar

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai

Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 821 kali | 0 Komentar

Kawin Campur

Syu - Belanda
Wednesday, 08 March 2017
Dibaca 1787 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

T.Moken-Michigan,USA
Tuesday, 22 November 2016
Dibaca 1019 kali | 0 Komentar

Glad All Over

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1079 kali | 0 Komentar

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Dewi Meong - Kuching - Malaysia
Tuesday, 27 September 2016
Dibaca 856 kali | 0 Komentar

Ke Bandung dengan Meong

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 14 September 2016
Dibaca 1283 kali | 0 Komentar

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku

Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1879 kali | 0 Komentar

Kota Kuching

Dewi Meong - Kuching - Jogja
Wednesday, 07 September 2016
Dibaca 1212 kali | 0 Komentar

Ke Panti Pijat

T.Moken-Michigan, USA
Wednesday, 17 August 2016
Dibaca 2618 kali | 0 Komentar

Then and Now

Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 26 July 2016
Dibaca 1466 kali | 0 Komentar

Mohon Maaf Lahir Batin

Redaksi KoKi
Wednesday, 06 July 2016
Dibaca 1185 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Bono Anggono - Philadelphia - USA
Monday, 27 June 2016
Dibaca 932 kali | 0 Komentar

Mencari Bono Anggono

Yunita Anggono
Monday, 27 June 2016
Dibaca 1134 kali | 0 Komentar
``


KOKINEWS

Glad All Over
Sirpa - Kalipornia - USA
Tuesday, 18 October 2016
Dibaca 1079 kali | 0 Komentar

Perayaan Asian American Pacific Islanders

Pengungsi

Brandi Chastain Sumbangkan Otaknya

Surat Terbuka Buat Ahok (1): Tahan Emosi

KOKISTORY

Ada Colon Cancer Dalam Tubuhku
Sirpa - Kali Pornia - USA
Saturday, 10 September 2016
Dibaca 1879 kali | 0 Komentar

Ilmu Yang Bermanfaat

Mahalnya Sebuah Ongkos Denda TILANG

Aku dan Kamu

Merindukan White Christmas

KOKIKOLOM

Pejabat Tionghoa
Setiawan Liu - Jakarta
Tuesday, 26 January 2016
Dibaca 2439 kali | 0 Komentar

Ayah

Gairah yang Hilang

Tepatkah Dia Untuk Anda?

Pentingkah Pembekuan Sperma?

KOKITOUR&FOOD

Hamparan Laut di Bawah Horizon Parai
Setiawan Liu - Jakarta
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 821 kali | 0 Komentar

Menikmati Alam Musim Gugur

Ke Taman Nasional Bako Serawak

Ke Bandung dengan Meong

Kota Kuching

KOKISIANA

Lomba Blog: Cerita Hepi elevenia
William Antonius
Wednesday, 15 March 2017
Dibaca 570 kali | 0 Komentar

Then and Now

Mohon Maaf Lahir Batin

Mencari Bono Anggono

Obong Pasar

Hai Z...

Dear God...
From Kokiers to Z...

Setiap penulis memiliki rumah. Shakespeare juga pernah bilang, bahwa kehidupan moral mempunyai "a habitation and a name", bertempat tinggal dan bernama. Mamak Z memiliki rumah bersama para penulis dan pembacanya di rumah...




© 2014 - powered by digitalbuana